JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mulai berdampak pada sektor energi global. Situasi semakin kompleks setelah terjadinya blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi lintasan utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Blokade tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Negara-negara produsen minyak di kawasan seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada jalur tersebut untuk menyalurkan minyak mentah ke pasar global.
Dampaknya, harga minyak dunia mengalami lonjakan. Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah antisipatif untuk menekan konsumsi energi.

Di Thailand, pemerintah mewajibkan pegawai instansi pemerintah serta perusahaan milik negara untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai bagian dari kebijakan penghematan energi.
Sementara itu, Bangladesh menerapkan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tersebut diberlakukan oleh Bangladesh Petroleum Corporation (BPC) setelah muncul fenomena panic buying dan penimbunan BBM di masyarakat.
Dikutip dari ABC, Selasa (10/3/2026), pengendara sepeda motor di Bangladesh kini hanya diperbolehkan membeli bensin maksimal dua liter per tangki.
Indonesia Belum Batasi Pembelian BBM
Di tengah situasi global tersebut, pemerintah Indonesia memastikan tidak ada pembatasan pembelian BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan masyarakat tetap dapat membeli BBM seperti biasa.
“Pemerintah menjamin kepada masyarakat untuk masa Ramadhan-Idul Fitri ini masyarakat silakan menjalankan kegiatannya seperti biasa,” kata Roberth saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, Pertamina terus berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah dan pemangku kebijakan untuk memantau kondisi pasokan energi setiap hari melalui satuan tugas khusus.
Meski tidak ada pembatasan, Pertamina tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak serta tidak terpengaruh isu yang memicu pembelian berlebihan.
“Dan menjaga bersama pendistribusian energi yang tepat sasaran bersama stakeholder terkait seperti Pemerintah melalui lembaga seperti Pemerintah daerah, APH seperti TNI POLRI, dan juga seperti BPH Migas,” terang Roberth.
Kondisi di Lapangan Masih Normal
Pertamina Siapkan Infrastruktur Energi
Di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Pertamina juga memastikan distribusi energi berjalan normal.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan ketersediaan stok BBM dan LPG dalam kondisi aman.
“Kami memastikan pasokan dan distribusi energi tetap terjaga sepanjang periode Ramadhan dan Idul Fitri,” ujar Ahad.
Untuk menjaga kelancaran distribusi, Pertamina mengoptimalkan jaringan infrastruktur energi yang terdiri dari 1.482 SPBU, 900 Pertashop, dan 1.296 agen LPG.
Selain itu, berbagai layanan tambahan juga disiapkan selama masa Ramadhan dan Idul Fitri 2026, seperti 644 SPBU Siaga 24 jam, 1.040 Agen LPG Siaga, sembilan titik layanan BBM dan Kiosk Pertamina Siaga, serta 36 unit Motorist/PDS yang bersifat mobile untuk menjangkau pemukiman dan jalur wisata.
Tak hanya itu, Pertamina juga menyiagakan 17 unit mobil tangki sebagai cadangan suplai di jalur-jalur perjalanan yang padat.
Ahad mengimbau masyarakat mengisi BBM lebih awal sebelum memasuki jalur padat serta memanfaatkan aplikasi MyPertamina untuk mengetahui lokasi layanan dan berbagai promo yang tersedia.
“Kami siap melayani sepenuh hati agar masyarakat dapat menikmati liburan dengan tenang bersama keluarga,” pungkasnya. (*/Rel)




