“Suara dari Tanah yang Terkoyak: Harapan Terakhir kepada Pemimpin Negeri”
Karya : Drs. H. Marlis, MM
Di tanah yang pernah menjadi sabuk kekuatan Nusantara,

hari ini Sumatera berdiri dengan tubuh penuh luka.
Dari kaki bukit yang longsor tanpa ampun,
dari hutan yang merintih diterjang arus,
dari kampung-kampung yang hilang ditelan gelap—
kami berdiri, tidak untuk menyerah,
tapi untuk berseru lebih lantang dari sebelumnya.
Di Sumbar, gemuruh tanah seakan menelan napas kami.
Di Sumut, air bah merenggut harapan secepat kilat.
Di Aceh, langit kembali menguji ketabahan yang tak pernah putus.
Semua itu bukan sekadar kabar duka itu jeritan nyata dari rakyat yang menjaga Indonesia dari barat.
Wahai Presiden Prabowo Subianto,
pemimpin yang kami kenal tegas dalam badai,
prajurit yang tak pernah membiarkan rakyatnya berdiri sendirian.
Hari ini kami tidak meminta belas kasihan.
Tidak—
kami meminta kehadiran negara sepenuh tenaga.
Kami meminta keputusan tegas yang mampu mengubah nasib ribuan keluarga yang kini menggenggam hidup hanya dengan sisa-sisa kekuatan:
tetapkanlah Status Bencana Nasional.
Bapak Presiden,
lihatlah mata anak-anak kami yang kehilangan rumah, namun masih menyimpan harapan dalam pelukan ibu mereka.
Lihatlah para ayah yang berdiri di antara puing-puing,berusaha tampak kuat meski dunia di pundaknya hampir runtuh.
Lihatlah tanah yang terbelah,seakan ingin berkata sendiri bahwa ini bukan bencana kecil—
ini adalah luka bangsa.
Sumatera memanggil Anda bukan dengan suara lemah,tetapi dengan keberanian dari rakyat yang telah ditempa sejarah.
Kami telah terlalu sering menghadapi bencana,namun kali ini luka itu terlalu besar,terlalu dalam,terlalu luas untuk kami tanggung sendiri.
Presiden Prabowo, dengarlah teriakan dari pulau yang selalu menjadi benteng Indonesia.
Jika negara hadir penuh,kami akan bangkit lebih kuat dari sebelumnya.
Namun jika negara terlambat,terlambat pula harapan yang tersisa untuk diselamatkan.
Inilah saatnya keputusan dibuat.
Inilah saatnya negara menunjukkan keberpihakannya.
Inilah saatnya suara rakyat diangkat tinggi agar tak lagi tenggelam di antara berita-berita lain.
Kami tidak menunggu besok.
Kami membutuhkan hari ini.
Sumatera, Sumut, Aceh, semua berdiri dalam satu seruan besar:
“Bapak Presiden, hadir dan tetapkanlah Bencana Nasional!”
Dan dari tanah yang retak ini,saya menuliskan puisi ni dengan sepenuh hati, sebagai wakil dari jutaan suara yang mungkin tak sempat berbicara.
(*/ Drs. H. Marlis, MM )




