spot_img
spot_img

Negeri Jiran Lirik Beras Indonesia, Pemerintah Buka Peluang Ekspor Jika Stok Aman

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemerintah Malaysia kembali mengajukan permintaan bantuan pasokan pangan kepada Indonesia, khususnya untuk komoditas beras. Permintaan tersebut diungkapkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang menyebut Malaysia menjadi salah satu negara tetangga yang meminta ekspor beras dari Indonesia.

Prasetyo menjelaskan, hingga saat ini Indonesia baru menyalurkan beras sebagai bantuan kemanusiaan ke Palestina. Namun, sejumlah negara sahabat juga menyampaikan permintaan serupa, termasuk Malaysia. Pemerintah, kata dia, akan mempertimbangkan permintaan tersebut sepanjang pasokan dalam negeri mencukupi.

“Kalau kemudian itu ada negara lain atau sahabat-sahabat kita belum berhasil membutuhkan bantuan, ya kalau memang kita sanggup, ya kita akan berikan bantuan. Contohnya dari Malaysia,” ujar Prasetyo di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Jawa Barat, Selasa (7/1/2026) malam.

Iklan

Meski demikian, Prasetyo belum merinci bentuk permintaan dari Malaysia, termasuk volume kebutuhan beras yang diminta maupun mekanisme penyalurannya. Ia menegaskan, keputusan ekspor tetap akan mempertimbangkan kondisi stok nasional.

Isu rencana ekspor beras ke Malaysia sejatinya bukan hal baru. Pertengahan 2025 lalu, pemerintah Indonesia juga sempat mengungkap adanya permintaan serupa dari Negeri Jiran. Pembicaraan tersebut pertama kali mencuat dalam pertemuan antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia YB Datuk Seri Haji Mohamad Bin Sabu pada April 2025.

Dalam pertemuan itu, Amran menyatakan Indonesia masih memprioritaskan penguatan stok dalam negeri.
“Menarik, tadi menanyakan ‘apa bisa kami (Malaysia) impor beras dari Indonesia?’ Saya katakan untuk sementara kami menjaga stok dulu,” ujar Amran usai pertemuan di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (22/4/2025).

BACA JUGA  Nasaruddin Umar Laporkan Fasilitas Jet Pribadi ke Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK: Disampaikan Kurang dari 30 Hari Kerja

Mohamad Bin Sabu membenarkan adanya rencana impor beras dari Indonesia, meski belum dapat direalisasikan saat itu. Ia menyebut Malaysia juga tertarik mempelajari teknologi pertanian Indonesia yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

“Sekarang ini belum lagi, tapi kita akan bincang (impor beras). Kita banyak di sini impor kelapa, sayuran termasuk ikan, aquaculture dan sebagainya. Tapi beras ini kami ingin lebih tumpu kepada teknologi yang dilihat di Indonesia ini lebih advance dalam hal menemukan teknologi baru, sehingga hasilnya sampai 12 ton, 13 ton, yang paling tinggi dan rata-ratanya sudah ada di peringkat 7 ton,” kata Sabu.

Pembahasan tersebut kemudian berlanjut. Pada Mei 2025, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertemu dengan perusahaan importir beras dari Malaysia. Bahkan, rencana ekspor beras ke Malaysia disebut telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.

Sudaryono menyebut Malaysia membutuhkan pasokan sekitar 2.000 ton beras per bulan. Meski demikian, realisasi ekspor masih menunggu pembahasan lebih lanjut terkait mekanisme dan kesiapan stok nasional.

“Intinya dari Malaysia kemarin sudah ketemu, pengusahanya sama saya juga. Kita bilang sesuai perintah Presiden, mekanismenya apa, kita ikuti. Yang jelas perintah Presiden, kita siap untuk ekspor beras ke Malaysia,” ujar Sudaryono di Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (28/5/2025).

Hingga akhir 2025, belum ada pengumuman resmi mengenai realisasi ekspor beras Indonesia ke Malaysia. Permintaan terbaru dari pemerintah Malaysia kini kembali membuka peluang tersebut, dengan catatan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah. (*/Rel)

BACA JUGA  Baleg DPR Soroti Impor 105 Ribu Pikap dari India, Dinilai Bertentangan dengan Komitmen Kemandirian Industri
spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses