Padang-Pemerintah Kota Padang terus mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana banjir besar yang melanda pada November 2025. Salah satu strategi yang ditempuh adalah program alih komoditas dari padi ke tanaman hortikultura dan palawija untuk menjaga produktivitas lahan yang terdampak kerusakan irigasi.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Kelompok Tani Surau Gadang di Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto (KPIK), Kecamatan Koto Tangah, berhasil menggelar panen raya jagung pipilan pakan ternak pada Kamis (25/6/2026), sebagai bukti bahwa lahan terdampak bencana masih dapat dioptimalkan secara produktif.
Program alih komoditas ini menjadi langkah taktis Pemkot Padang dalam mencegah lahan pertanian terbengkalai sekaligus menjaga perputaran ekonomi petani selama proses pemulihan infrastruktur irigasi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Padang, Gusnita Sukmawati, menjelaskan program tersebut dibiayai melalui APBD Kota Padang sebagai bentuk intervensi langsung pemerintah terhadap sektor pertanian terdampak bencana.
Pada tahap awal, Pemkot Padang mengalokasikan anggaran sebesar Rp800 juta pada Desember 2025. Dukungan itu kemudian diperkuat dengan tambahan Rp1,7 miliar pada 2026 yang disalurkan melalui tiga tahapan program.
“Program alih komoditas ini mencakup total luas lahan 132,2 hektare yang tersebar di enam kecamatan dan 16 kelurahan, dengan menyasar 45 kelompok tani penerima manfaat,” ujar Gusnita.
Bantuan yang diberikan meliputi sarana produksi pertanian berupa benih unggul dan pupuk berkualitas untuk sembilan komoditas strategis.
Khusus di Kelompok Tani Surau Gadang, lahan seluas delapan hektare berhasil dimanfaatkan untuk budidaya jagung pakan ternak varietas Pioneer 32. Komoditas ini dinilai memiliki prospek ekonomi tinggi karena permintaan pasar dari sektor peternakan unggas terus meningkat.
Selain itu, keberadaan offtaker atau pembeli siaga juga memberikan kepastian pasar bagi petani, sehingga hasil panen memiliki jalur distribusi yang jelas.
Sekretaris Dinas Pertanian Kota Padang, Ansoriudin, mengapresiasi kerja keras para petani serta kolaborasi lintas sektor yang melibatkan dinas terkait, Badan Pusat Statistik (BPS), hingga TNI-Polri.
Menurutnya, intervensi pemerintah melalui bantuan benih dan pupuk menjadi solusi darurat agar lahan tetap produktif di tengah keterbatasan pasokan air irigasi.“Inter vensi benih Pioneer 32 dan pupuk NPK Mutiara dari Pemkot Padang merupakan solusi darurat pascabencana agar lahan tidak telantar,” tegas Ansoriudin.
Meski demikian, ia menekankan bahwa komoditas padi tetap menjadi prioritas utama dalam mendukung ketahanan pangan daerah. “Jika air irigasi sudah kembali normal, kami meminta petani kembali menanam padi demi menjaga pasokan pangan masyarakat,” tambahnya.
Bagi petani yang tertarik melanjutkan budidaya jagung karena nilai ekonominya yang menjanjikan, Pemkot Padang membuka peluang pemanfaatan lahan tidur milik aset pemerintah sebagai alternatif pengembangan usaha tani.
Sementara itu, kehadiran Ketua Petani Penggerak, Irman, yang bertindak sebagai offtaker, dinilai turut memperkuat ekosistem pertanian lokal. Pola ini mampu memutus rantai tengkulak sehingga petani memperoleh harga jual yang lebih adil dan menguntungkan.
Keberhasilan panen jagung di Koto Tangah menjadi gambaran bahwa adaptasi sektor pertanian melalui diversifikasi komoditas dapat menjadi solusi efektif menghadapi dampak bencana. Di sisi lain, langkah ini juga memperlihatkan bagaimana ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi padi, tetapi juga pada kemampuan daerah berinovasi menjaga produktivitas lahan. (sal)



