JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengucurkan dana riset dan pengembangan sebesar Rp1,7 triliun pada 2026 untuk mendukung 18.215 kegiatan di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pendanaan ini diarahkan untuk memperkuat kontribusi akademik sekaligus mendorong hasil riset agar lebih berdampak bagi masyarakat dan industri.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan apresiasi kepada para penerima pendanaan yang dinilai telah melalui proses panjang dan kompetitif.
“Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak,” ujarnya, dikutip Minggu (12/4/2026).

Brian menegaskan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di ruang laboratorium.
“Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Dominasi PTS dan Sebaran Nasional
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa skema pendanaan tahun ini dirancang untuk mempercepat hilirisasi hasil riset.
“Program ini diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri,” ujarnya.
Dari total penerima, sebanyak 60 persen berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS), sementara 40 persen dari perguruan tinggi negeri (PTN/PTN-BH). Para penerima merupakan dosen yang tersebar di 38 provinsi. Selain itu, mulai tahun ini sekitar 25 persen dana riset juga dialokasikan untuk honorarium peneliti.
Pendanaan riset difokuskan pada sejumlah sektor strategis. Bidang kesehatan mendapat porsi terbesar sebesar 27 persen, disusul ketahanan pangan 25 persen. Selanjutnya hilirisasi dan industrialisasi 16 persen serta digitalisasi—termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor—sebesar 15 persen.
Sektor lain yang turut didanai meliputi energi 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen.
Ribuan Proposal Lolos Seleksi Ketat
Secara rinci, program penelitian menyerap anggaran terbesar yakni Rp1,04 triliun dengan 13.028 proposal lolos dari total 83.284 usulan. Program ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas riset dosen serta pengembangan riset dasar dan terapan.
Untuk Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), pemerintah mengalokasikan Rp167 miliar bagi 3.328 tim dari 15.728 usulan. Program ini difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Sementara itu, Program Hilirisasi Riset Prioritas menggelontorkan Rp318 miliar untuk 925 proposal guna mempercepat transfer teknologi ke sektor industri dan publik.
Program lain yang turut didanai antara lain pengujian model dan prototipe sebesar Rp46 miliar untuk 354 proposal, Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) Rp62,4 miliar untuk 102 konsorsium, serta penguatan kelembagaan riset Rp7,85 miliar untuk 17 pusat unggulan.
Selain itu, Program Mahasiswa Berdampak memperoleh Rp21,9 miliar untuk 202 proposal, Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Rp17,5 miliar untuk 244 karya, serta program kolaborasi internasional PHC-Nusantara sebesar Rp2,2 miliar untuk 15 riset bersama Indonesia–Prancis.
Dengan skema ini, pemerintah berharap riset di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (*/Rel)




