“Irigasi Batang Hari Sekarat: Urat Nadi Pangan Dharmasraya yang Dibiarkan Mati Perlahan”
DHARMASRAYA, ALINIANEWS.COM — Air itu masih mengalir, tapi nyaris tak terlihat. Di beberapa titik irigasi Batang Hari, khususnya di wilayah Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, permukaan air telah berubah menjadi hamparan hijau—ditutup rumput liar, enceng, dan sedimentasi yang menebal dari tahun ke tahun. Yang tersisa bukan lagi saluran irigasi yang dulu menjadi kebanggaan, melainkan jejak kejayaan yang perlahan ditinggalkan. Padahal, inilah irigasi yang sejak era 1980-an menjadi tulang punggung ribuan hektare sawah di Dharmasraya.
Dari Ikon Swasembada, Kini Terabaikan

Dibangun pada masa program swasembada pangan nasional, Irigasi Batang Hari pernah menjadi proyek strategis negara. Airnya menghidupi sawah-sawah transmigrasi di Sitiung, Sungai Rumbai, hingga Pulau Punjung.
Namun hari ini, kondisi di lapangan berbicara lain.
“Dulu air lancar, sekarang kadang sampai ke sawah pun susah. Banyak yang tertutup lumpur dan rumput,” ujar seorang petani di Sitiung yang enggan disebutkan namanya. Sedimentasi yang mengendap bertahun-tahun membuat kapasitas saluran menyusut drastis. Di beberapa titik, kedalaman air tinggal separuh dari kondisi normal, bahkan nyaris stagnan.
Sitiung: Titik Kritis yang Terlupakan
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi paling parah berada di wilayah Sitiung: Sedimen menumpuk tebal di dasar saluran, Rumput liar dan tanaman air menutup hampir seluruh permukaan, Aliran air melambat bahkan tersumbat di beberapa titik. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin irigasi ini akan mati fungsi secara total. Padahal, ribuan petani masih menggantungkan hidupnya pada sistem ini.
Pertanyaan Besar: Kemana Peran BWSS V?
Secara kewenangan, Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) berada di bawah Kementerian PUPR dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan jaringan irigasi strategis, termasuk irigasi lintas daerah seperti Batang Hari. Namun yang menjadi pertanyaan mendasar hari ini: Apakah BWSS V masih mengalokasikan anggaran untuk operasi dan pemeliharaan (OP) Irigasi Batang Hari di Dharmasraya?
Jika iya: Mengapa kondisi di lapangan begitu memprihatinkan?
Mengapa sedimentasi dibiarkan menahun tanpa pengerukan?
Jika tidak: Apakah irigasi ini sudah “diturunkan statusnya”? Ataukah ini bentuk kelalaian dalam menjaga aset negara? Minimnya transparansi membuat publik hanya bisa menebak—sementara kerusakan terus berjalan.
Antara Kewenangan Pusat dan Daerah
Permasalahan klasik pun muncul: tarik menarik tanggung jawab.
Pemerintah pusat (BWSS V) bertanggung jawab pada saluran utama, Pemerintah daerah pada jaringan sekunder dan tersier. Namun di lapangan, batas itu menjadi kabur. Yang terlihat jelas hanyalah satu hal: tidak ada perawatan serius dalam beberapa tahun terakhir.
Ancaman Nyata Ketahanan Pangan
Kerusakan irigasi bukan sekadar persoalan teknis. Ini adalah ancaman langsung terhadap: Produksi padi lokal, Pendapatan petani, Stabilitas pangan daerah
Ironisnya, di saat negara sedang menggencarkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kemandirian pangan, justru infrastruktur dasar seperti irigasi dibiarkan melemah.
Saatnya Negara Hadir, Bukan Diam
Irigasi Batang Hari bukan proyek kecil. Ini adalah aset strategis negara yang dibangun dengan biaya besar dan harapan besar.
Membiarkannya rusak sama saja dengan membiarkan petani berjuang sendiri dan perlahan menggerus masa depan pangan daerah
Publik berhak mendapat jawaban.
BWSS V harus terbuka:
Berapa anggaran pemeliharaan yang dialokasikan?
Kapan terakhir dilakukan normalisasi?
Apa rencana konkret penyelamatan irigasi ini?
Penutup
Hari ini, Irigasi Batang Hari di Dharmasraya bukan lagi sekadar saluran air. Ia adalah simbol:
apakah negara masih serius menjaga urat nadi pangan rakyatnya, atau justru mulai membiarkannya mati perlahan. Jika tidak segera ditangani, maka yang hilang bukan hanya air, tetapi juga harapan ribuan petani Dharmasraya. (*/ Tim Investigasi )



