JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memastikan seluruh ruas jalan nasional di wilayah Sumatera yang terdampak bencana kini telah kembali berfungsi secara penuh. Hal itu disampaikan Dody dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
“Alhamdulillah, per 30 Desember 2025 jalan dan jembatan nasional secara fungsional sudah berfungsi penuh,” ujar Dody di hadapan anggota dewan.
Sebelumnya, bencana alam menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 99 ruas jalan nasional di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selain itu, 33 jembatan nasional turut terdampak akibat banjir dan longsor.

Dody mengatakan Presiden Prabowo Subianto sejak awal memberikan instruksi agar pemulihan infrastruktur dipercepat guna menjaga kelancaran distribusi logistik dan bahan bakar.
“Waktu itu kita kejar penuh, dibantu TNI, Polri, dan masyarakat setempat, supaya jalan dan jembatan nasional bisa segera fungsional. Karena kami diwanti-wanti Pak Presiden agar jangan sampai suplai logistik dan BBM terganggu,” kata Dody.
Target Rampung 2027–2028
Ia menyebutkan, hingga saat ini progres pemulihan jalan nasional telah mencapai sekitar 91 persen. Pemerintah menargetkan seluruh perbaikan jalan di wilayah terdampak rampung pada Agustus 2027.
“Target besarnya kita selesai semua untuk jalan di Agustus 2027,” ujarnya.
Sementara itu, progres pemulihan jembatan masih menghadapi tantangan. Hingga kini, penyelesaian jembatan baru mencapai 43 persen.
“Untuk jembatan memang lebih berat. Targetnya baru bisa selesai seluruhnya di Oktober 2028,” kata Dody.
Jembatan Darurat Rawan Rusak
Dody menjelaskan, sebagian besar jembatan yang saat ini digunakan masih bersifat fungsional atau sementara. Jembatan tersebut hanya dirancang menahan beban maksimal 10–20 ton.
Namun di lapangan, kendaraan bermuatan berat kerap melintas, terutama saat malam hari.
“Kalau sudah malam hari, kebutuhan BBM, LPG, beras itu masuk semua. Padahal jembatan fungsional hanya kuat 10 sampai 20 ton,” ujarnya.
Karena kondisi itu, Kementerian PU memutuskan mempercepat pembangunan jembatan permanen meski membutuhkan waktu cukup panjang.
“Jadi mau tidak mau kami percepat ke permanen. Karena kalau dibiarkan, khawatir ambruk, dan ujung-ujungnya yang disalahkan kami,” kata Dody.
Pembangunan jembatan permanen diperkirakan memakan waktu 7–8 bulan. Selama proses berlangsung, jembatan sementara akan terus diawasi secara berkala.
“Setiap dua minggu kita cek strukturnya. Biasanya pasti perlu dilakukan perkuatan,” ujarnya.
Pengawasan juga melibatkan unsur TNI dan Polri untuk memastikan keamanan lalu lintas dan beban kendaraan.
Jalan Nasional Fungsional 100 Persen
Dody menegaskan, seluruh jalan nasional di Sumatera kini sudah dapat digunakan secara fungsional. Hal ini dilakukan demi menjaga kelancaran distribusi logistik pascabencana.
“Jalan nasional kita paksakan fungsional 100 persen. Yang penting logistik bisa jalan dulu,” katanya.
Namun, satu ruas di Sumatera Utara, yakni Tarutung–Sibolga, masih dalam tahap penanganan darurat.
“Ruas itu masih tanggap darurat. Memang agak sulit membedakan mana fase tanggap darurat dan mana rehab-rekon,” jelasnya.
Jalan Daerah Masih Banyak Rusak
Untuk jalan daerah, Dody mengungkapkan progres perbaikan baru mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah ruas di daerah terpencil masih belum bisa dilalui secara normal.
“Masih banyak jalan desa yang rusak, bahkan ada yang benar-benar hilang. Seperti di Bireuen dan beberapa wilayah lain, akses antardesa harus dibuatkan trase baru,” ungkapnya.
Sementara itu, jembatan nasional telah berfungsi sepenuhnya, namun jembatan penghubung antardaerah baru mencapai sekitar 43 persen.
“Jembatan nasional 100 persen sudah fungsional. Tapi jembatan daerah masih kita kejar. Sekarang fokus kita membangun jembatan perintis supaya mobilitas masyarakat tidak terganggu,” pungkas Dody. (*/Rel)




