spot_img
spot_img

Trump Umumkan Kesepakatan Damai Israel–Hamas: Warga Gaza Menangis, Menari, dan Meneriakkan ‘Allahu Akbar

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kabar yang mengguncang dunia: Israel dan Hamas akhirnya menyepakati proposal perdamaian tahap pertama di Gaza. Pengumuman bersejarah itu disambut sorak sorai dan tarian warga di jalan-jalan Gaza yang selama dua tahun terakhir luluh lantak oleh perang.

“Saya sangat bangga mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani Tahap Pertama Rencana Perdamaian kami,” tulis Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, dikutip dari AFP, Kamis (9/10/2025).

Trump menyebut kesepakatan tahap pertama mencakup pembebasan seluruh sandera dan penarikan pasukan Israel dari Gaza menuju wilayah yang telah disepakati. “Semua sandera akan dibebaskan,” tegasnya. Ia juga memberi sinyal akan berkunjung ke Timur Tengah dalam waktu dekat. “Saya mungkin akan ke sana sekitar akhir minggu ini, mungkin hari Minggu,” katanya di Gedung Putih.

Iklan

Kabar perdamaian itu sontak mengubah suasana Gaza. Video yang diunggah jurnalis Palestina, Saeed Mohamed, menunjukkan kerumunan besar pria dan wanita menari, bersiul, bertepuk tangan, dan meneriakkan “Allahu Akbar” di luar rumah sakit al-Aqsa, pusat kota Deir al-Balah. Sementara itu, jurnalis Mohammed al-Haddad memperlihatkan kelompok pemuda menari di jalan-jalan lain di Gaza.

“Kami terus mengikuti setiap berita tentang negosiasi dan gencatan senjata,” kata Mohammed Zamlot, 50 tahun, pengungsi asal Gaza utara yang kini tinggal di wilayah selatan. Di kawasan pesisir Al-Mawasi, warga bersorak dan melepaskan tembakan ke udara sebagai tanda sukacita.

Dari pihak Hamas, kelompok militan itu menyatakan telah mencapai kesepakatan yang “mengakhiri perang di Gaza, penarikan pendudukan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan.” Hamas juga mendesak Trump agar memastikan Israel mematuhi seluruh isi perjanjian tanpa menunda-nunda.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyebut para mediator dari Qatar, Mesir, Turki, dan Amerika Serikat telah berhasil menyepakati semua ketentuan pelaksanaan tahap pertama. “Para mediator mengumumkan bahwa malam ini telah tercapai kesepakatan mengenai semua ketentuan dan mekanisme pelaksanaan tahap pertama gencatan senjata Gaza, yang akan mengarah pada berakhirnya perang, pembebasan sandera Israel dan tahanan Palestina, serta masuknya bantuan kemanusiaan,” ujarnya melalui platform X.

Menurut sumber Hamas yang dikutip AFP, tahap pertama kesepakatan mencakup pertukaran 20 sandera Israel yang masih hidup dengan 2.000 tahanan Palestina, termasuk 250 tahanan seumur hidup. Pertukaran dijadwalkan berlangsung dalam waktu 72 jam setelah perjanjian resmi ditandatangani. Hamas juga menyerahkan daftar nama tahanan Palestina yang ingin dibebaskan, di antaranya tokoh Fatah Marwan Barghouti.

Sebagai imbalannya, Hamas akan membebaskan 47 sandera yang tersisa baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dari total 251 orang yang disandera sejak serangan 7 Oktober 2023.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan menggelar rapat kabinet pada Kamis malam untuk menyetujui kesepakatan tersebut. “Besok saya akan mengumpulkan pemerintah untuk menyetujui perjanjian ini dan membawa pulang semua sandera tercinta kita,” kata Netanyahu dalam pernyataan resminya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, turut menyambut baik kesepakatan bersejarah itu. Ia menyerukan agar seluruh pihak mematuhi isi perjanjian dan memastikan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza tidak lagi terhambat. “Semua sandera harus dibebaskan dengan cara yang bermartabat. Gencatan senjata permanen harus segera diwujudkan. Pertempuran harus berakhir sekali dan untuk selamanya,” tegasnya.

Perang yang berlangsung sejak 2023 telah menewaskan sedikitnya 67.183 orang di Gaza. PBB menyebut kondisi di wilayah itu sebagai “kehancuran total” dengan ancaman kelaparan massal dan krisis kemanusiaan terbesar abad ini.

Negosiator utama Hamas, Khalil al-Hayya, dalam pertemuan awal pekan ini mengatakan, “Kami hanya menginginkan jaminan dari Presiden Trump dan negara-negara sponsor bahwa perang ini akan berakhir untuk selamanya.”

Kesepakatan ini menjadi titik balik paling konkret menuju akhir perang yang telah menghancurkan Gaza selama dua tahun terakhir. Dunia kini menahan napas, berharap perdamaian yang baru lahir ini tak lagi kandas di tengah bara dendam lama yang belum sepenuhnya padam. (*/rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses