JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras bahwa Iran sebenarnya tengah terlibat dalam pembicaraan damai, meskipun secara terbuka membantah hal tersebut.
“Omong-omong, mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Namun mereka takut untuk mengatakannya, karena mereka pikir mereka akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri,” kata Trump, dilansir AFP, Kamis (26/3/2026).
“Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita,” lanjutnya.

Pernyataan Trump itu bertolak belakang dengan sikap resmi Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak memiliki rencana untuk berunding dengan Washington.
“Saat ini, kebijakan kami adalah kelanjutan dari perlawanan,” ujar Araghchi.
“Kami tidak berniat untuk bernegosiasi sejauh ini, tidak ada negosiasi yang terjadi, dan saya yakin posisi kami sepenuhnya berdasarkan prinsip,” imbuhnya.
Ia bahkan menilai pembicaraan damai justru mencerminkan kekalahan. “Berbicara tentang negosiasi saat ini merupakan sebuah pengakuan atas kekalahan,” tegasnya.
Di tengah saling bantah tersebut, pemerintahan Trump dilaporkan telah menawarkan proposal gencatan senjata berisi 15 poin kepada Iran. Tawaran itu disampaikan melalui Pakistan sebagai perantara, sebagaimana dilaporkan media AS, The New York Times, mengutip pejabat yang mengetahui rencana tersebut.
Dalam proposal itu, utusan AS seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan. Selama periode itu, kedua pihak diharapkan merundingkan kesepakatan lebih lanjut.
Sejumlah poin yang dilaporkan mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz. Namun, rincian lengkap proposal tersebut belum dipublikasikan.
Belum ada kejelasan apakah Israel mendukung rencana tersebut. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga belum memberikan tanggapan resmi.
Sementara itu, Pakistan sebelumnya menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, militer Iran merespons keras tawaran gencatan senjata tersebut. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menyindir langkah Amerika Serikat.
“Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis,” kata Zolfaghari dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
“Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir,” tegasnya.
Ia juga melontarkan kritik tajam dengan menyebut Washington seolah bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
“Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri Anda sendiri?” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Zolfaghari menegaskan sikap keras Iran terhadap AS.
“Kata pertama dan terakhir kami masih sama sejak hari pertama, dan akan tetap seperti itu: Orang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan orang seperti Anda. Tidak sekarang, tidak akan pernah,” tandasnya.
Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan Trump siap “melepaskan neraka” jika Iran tidak mengakui kekalahan, sembari tetap menegaskan bahwa Teheran masih terlibat dalam pembicaraan. Trump juga mengklaim telah ada kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat pekan terakhir.




