JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pidatonya di Sidang Umum PBB di New York, Selasa (23/9) waktu setempat. Ia mempertanyakan tujuan keberadaan badan dunia itu dan menyebutnya hanya menghasilkan “omong kosong” tanpa tindakan nyata.
“Apa tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa? PBB punya potensi yang luar biasa. Saya selalu bilang begitu. Tapi sebagian besar belum bisa mencapai potensi itu,” kata Trump, dilansir CNN International.
“Setidaknya untuk saat ini, mereka sepertinya hanya menulis surat yang tegas dan tidak pernah menindaklanjutinya. Itu cuma omong kosong, dan omong kosong tidak menyelesaikan perang. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan perang dan peperangan adalah tindakan,” imbuhnya.

Sindiran Soal Perdamaian Dunia
Dalam pidato berdurasi 55 menit tersebut, Trump menilai PBB gagal menciptakan perdamaian dunia. Ia bahkan menyinggung pengalaman pribadinya dengan fasilitas di markas besar PBB.
“Ini adalah dua hal yang saya dapatkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, eskalator yang buruk dan teleprompter yang buruk,” ujarnya, disambut tawa sebagian delegasi.
Trump mengklaim dirinya lebih berperan dalam menghentikan perang dibanding PBB. “Sangat disayangkan saya harus melakukan hal-hal ini, alih-alih Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melakukannya, dan sayangnya, dalam semua kasus, Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan tidak mencoba membantu dalam hal apa pun,” katanya.
Kritik Soal Perubahan Iklim dan Energi
Trump juga menggunakan panggung Sidang Umum untuk menyerang kebijakan global mengenai energi bersih. Ia menyebut pemanasan global sebagai “tipuan” dan menyebut kebijakan energi Eropa sebagai “bunuh diri”.
“Semua hijau berarti bangkrut. Itulah yang diwakilinya. Dan itu tidak benar secara politis. Saya akan dikritik habis-habisan jika mengatakannya, tetapi sejujurnya, saya tidak peduli,” tegasnya.
Ia mengeklaim Amerika Serikat memiliki udara terbersih di dunia, dan jika kotor, itu akibat polusi dari negara lain. “Selamat, Eropa. Kerja bagus. Anda kehilangan banyak pekerjaan, banyak pabrik tutup, tetapi Anda mengurangi jejak karbon sebesar 37 persen,” sindir Trump.
Klaim Mengakhiri Perang Hingga Isu Gaza
Trump berulang kali menyombongkan pencapaiannya yang diklaim telah “mengakhiri tujuh perang” dalam kurun waktu kurang dari setahun menjabat. Namun, ia mengakui konflik besar seperti invasi Rusia ke Ukraina dan genosida Israel di Gaza masih belum terselesaikan.
“Kita harus segera menghentikan perang di Gaza. Kita harus menghentikannya. Harus menyelesaikannya. Kita harus segera bernegosiasi. Harus menegosiasikan perdamaian. Kita harus memulangkan para sandera. Kita ingin semua 20 orang itu kembali,” katanya.
Trump menuding Hamas menolak berbagai tawaran perdamaian dan mengecam upaya sejumlah negara mengakui Palestina secara sepihak. “Imbalannya akan terlalu besar bagi teroris Hamas, atas kekejaman mereka,” tegasnya.
Peringatan ke Rusia dan Sindiran ke Eropa
Selain Gaza, Trump mengancam akan memberlakukan tarif besar terhadap Rusia jika negara itu tidak siap mengakhiri perang di Ukraina. “Jika Rusia belum siap membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang, maka Amerika Serikat sepenuhnya siap untuk memberlakukan putaran tarif yang sangat kuat,” ujarnya.
Ia juga menekan negara-negara Eropa untuk bergabung dengan kebijakan serupa. “Eropa harus meningkatkannya. Ini memalukan bagi mereka,” kata Trump.
PBB Dinilai “Tak Ada Gunanya”
Trump menegaskan bahwa PBB tidak efektif kecuali ada kemauan dari negara anggotanya. Ia menyoroti penggunaan hak veto oleh Rusia dalam isu Ukraina, dan oleh AS sendiri dalam enam resolusi gencatan senjata di Gaza.
Setelah mengalami eskalator macet dan teleprompter rusak di markas PBB, Trump menyimpulkan pengalamannya secara sarkastis. “Yang saya dapatkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa hanyalah eskalator yang saat naik, berhenti tepat di tengah. Jika Ibu Negara tidak dalam kondisi prima, beliau pasti sudah jatuh,” ucapnya.
Trump bahkan mengenang masa lalu ketika pernah menawarkan diri membangun ulang gedung PBB. “Saat itu saya bilang akan melakukannya seharga USD500 juta. Membangun kembali semuanya dengan indah. Dulu saya pernah bicara tentang, saya akan memberi Anda lantai marmer. Mereka akan memberi Anda teraso. Saya akan memberi Anda yang terbaik dari semuanya. Anda akan memiliki dinding mahoni. Mereka akan memberi Anda plastik,” katanya, menggelengkan kepala.
(*/Rel)




