Foto: Donal Trump
JAKARTA, ALINIANEWS.COM –– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif dagang terhadap China. Kali ini, ia menyinggung soal ekspor magnet tanah jarang (rare earth magnets) yang menjadi salah satu komoditas penting dalam industri global.
“Mereka harus memberi kita magnet, jika mereka tidak memberi kita magnet, maka kita harus mengenakan tarif 200% atau semacamnya,” kata Trump kepada wartawan usai bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Gedung Putih, Senin (25/8/2025).

Trump bahkan menyinggung dampak terhadap sektor aviasi China jika Washington mengambil langkah tegas.
“200 pesawat mereka tidak dapat terbang karena kita sengaja tidak memberi mereka suku cadang Boeing karena mereka tidak memberi kita magnet,” tambahnya.
Dominasi China di Rare Earth
Pernyataan Trump muncul setelah data pemerintah AS menunjukkan ekspor magnet tanah jarang dari China melonjak tajam dalam dua bulan terakhir. Pengiriman ke AS naik 660% pada Juni dibanding Mei, sementara volume di bulan Juli kembali meningkat 76%.
China menguasai sekitar 90% pasokan global magnet tanah jarang, memberi Beijing posisi tawar strategis dalam perundingan dagang. AS sendiri sangat bergantung pada komponen ini untuk manufaktur, mulai dari otomotif, elektronik, energi terbarukan, hingga pertahanan.
Henry Wang, Presiden Center for China & Globalization di Beijing, menilai ancaman Trump lebih banyak retorika dibandingkan kebijakan nyata.
“Dia menggertak. Dia selalu bicara panjang lebar tentang tarif atau potensi hukuman, tetapi kita tidak boleh terjebak dalam retorika itu,” ujar Wang, mantan penasihat Dewan Negara China.
Menurutnya, pernyataan itu justru menunjukkan keinginan Trump untuk mendorong tercapainya kesepakatan dagang baru.
Gencatan Senjata Dagang
Pada Juni lalu, Washington dan Beijing sudah menyepakati kerangka kerja perdagangan: pelonggaran kontrol ekspor logam tanah jarang oleh China, serta pencabutan sebagian pembatasan teknologi AS ke China. Kedua pihak juga sepakat menurunkan tarif menjadi sekitar 55% (AS) dan 32% (China).
Namun, gencatan senjata ini hanya sementara dan akan berakhir pertengahan November 2025.
“Ketahanan gencatan senjata perdagangan setelah batas waktu November akan bergantung pada kelanjutan kerja sama bilateral,” kata Alfredo Montufar-Helu, direktur pelaksana firma penasihat GreenPoint.
Wall Street Journal melaporkan negosiator perdagangan senior China, Li Chenggang, akan segera bertemu Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan pejabat senior Departemen Keuangan di Washington pekan ini.
Nasib TikTok Masih Menggantung
Selain perang dagang, Trump juga menyinggung soal TikTok. Ia menyebut sudah ada calon pembeli asal AS yang siap mengambil alih aplikasi milik ByteDance itu, meski enggan menyebutkan nama.
Trump bahkan membuka opsi memperpanjang lagi tenggat waktu bagi ByteDance untuk melepas asetnya di AS.
“Saya belum berbicara dengan Presiden Xi terkait hal tersebut,” katanya dalam kunjungannya ke gift shop Gedung Putih, Jumat (22/8).
“Untuk sementara, hingga kompleksitas ini bisa diselesaikan, kita akan memperpanjang [tenggat untuk TikTok] hingga beberapa waktu,” tambahnya.
Meski sejumlah anggota parlemen AS khawatir terkait privasi dan keamanan nasional, Trump menepis isu itu.
“Saya sama sekali tidak khawatir. Menurut saya itu terlalu dilebih-lebihkan, saya penggemar TikTok,” ucapnya, dikutip Reuters.
Sebelumnya, undang-undang tahun 2024 mewajibkan ByteDance melepas aset TikTok di AS atau berhenti beroperasi paling lambat 19 Januari 2025. Namun, Trump berulang kali memperpanjang tenggat, terakhir hingga 17 September 2025.
“Untuk sementara, sampai kerumitan ini selesai, kami perpanjang sedikit lebih lama,” jelasnya.
Langkah ini memicu kritik keras dari anggota parlemen yang menilai Trump mengabaikan hukum dan meremehkan risiko keamanan nasional akibat kendali China terhadap TikTok.
(*/rel)




