PADANG, ALINIANEWS.COM – Kondisi kelangkaan susu UHT di Sumatera Barat yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan belakangan ternyata bukan hanya memunculkan keresahan, tetapi juga membuka celah bagi munculnya modus penipuan gaya baru. Kebutuhan susu untuk Program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang setiap hari meningkat menjadikan banyak pihak, termasuk Yayasan Alinia Entrepreneur Indonesia, harus bergerak cepat demi menjaga keberlangsungan program tersebut di tiga SPPG yang sedang beroperasi. Namun upaya memenuhi kebutuhan itu justru berubah menjadi drama kriminal yang memacu adrenalin.
Dengan langkanya susu UHT di pasaran, Yayasan Alinia menerima tawaran dari seseorang di Pekanbaru yang mengaku mampu menyediakan stok dalam jumlah besar. Meskipun harga yang ditawarkan relatif lebih tinggi, demi kebutuhan program, pemesanan pun dilakukan: 1.500 dus atau 60.000 kotak susu.
Kesepakatan dibuat, harga plus ongkos truk disetujui. Pelaku hanya meminta DP Rp1,5 juta, mengatasnamakan biaya keberangkatan truk. Jumlah kecil terlalu kecil untuk dicurigai sebagai skema penipuan besar.

Kronologi yang Terskenario Rapi
Pelaku mengirim informasi bahwa truk telah berangkat dari Pekanbaru sore hari sebelumnya, lengkap dengan nomor polisi dan janji untuk terus mengabarkan posisi kendaraan. Semua tampak meyakinkan. Semua tampak normal. Semua tampak seperti skema transaksi besar yang wajar. Menjelang magrib, laporan pun masuk: “Truk sudah sampai Padang.”
Karena truk berukuran besar, disepakati bahwa pembongkaran dilakukan di kawasan By Pass Padang, lalu susu akan dilansir ke gudang menggunakan mobil kecil. Hingga titik ini, semuanya berjalan sesuai rencana.
Sampai akhirnya, babak ‘drama India’ itu dimulai.
Puncak Drama: Desakan Pembayaran Sebelum Segel Dibuka
Sang pengirim tiba-tiba mendesak agar pembayaran dilunasi sebelum segel truk dibuka. Alasannya klasik: faktor keamanan dan kepercayaan. Di sinilah kecurigaan mulai muncul. Tim Yayasan bersikap tegas: Pembayaran hanya akan dilakukan setelah barang dicek. Saat sopir diminta dengan sedikit tekanan untuk membuka bak truk, tabir penipuan pun terbongkar
Tidak ada satu pun dus susu di dalamnya.Tidak ada satu kotak pun. Hanya ruang hampa yang menyisakan tanda tanya besar. Ketika dicecar, sang sopir pun ternyata tidak tahu apa-apa. Ia hanya menjalankan perintah bosnya untuk membawa truk yang katanya sudah berisi susu ke Padang, lengkap dengan alamat penerima. Kemungkinan besar sopir, dan bahkan perusahaan truknya, juga sedang dimanfaatkan sebagai bagian dari skema penipuan kelas kakap ini, tanpa mereka sadari. Jika pembayaran dilakukan sebelum pengecekan, ratusan juta rupiah bisa hilang seketika.
Alhamdulillah, Tuhan menyelamatkan uang ratusan juta rupiah berkat kewaspadaan untuk tetap memeriksa barang terlebih dahulu. Modus seperti ini tidak lagi sekadar iming-iming barang murah, melainkan transaksi besar yang dibuat sangat meyakinkan, lengkap dengan bukti perjalanan, nomor polisi, hingga komunikasi intens. Inilah wajah penipuan modern: memanfaatkan kelangkaan, tekanan kebutuhan, dan kemendesakan waktu.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa: Penipu semakin kreatif memanfaatkan situasi sulit. Modus bisa menyasar lembaga pendidikan, yayasan sosial, bahkan pelanggan besar.
Verifikasi fisik barang adalah kewajiban mutlak dalam transaksi skala besar. Jangan pernah menyerahkan pelunasan sebelum pengecekan langsung, apa pun alasannya.
Kelangkaan susu boleh saja menjadi masalah. Tapi kelengahan akan menjadi bencana yang jauh lebih besar.
Yayasan Alinia Entrepreneur Indonesia berharap kisah nyata ini menjadi peringatan publik, agar dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat lebih waspada terhadap modus penipuan yang sedang bermetamorfosis ke arah yang semakin cerdas dan berbahaya. Kadang, di balik kesulitan, memang selalu ada orang-orang yang siap memanfaatkan celah. Dan hanya keteguhan sikap, kehati-hatian, serta penegakan prosedur yang bisa menyelamatkan kita semua. (*/ Marlis)




