JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Junta militer Myanmar melancarkan operasi besar-besaran terhadap jaringan penipuan daring dan perjudian ilegal di kawasan perbatasan Myanmar–Thailand. Sedikitnya 346 warga negara asing (WNA) ditangkap dalam penggerebekan yang digelar pada Selasa (18/11/2025) pagi di kompleks Shwe Kokko, yang selama ini dikenal sebagai episentrum aktivitas kejahatan digital.
Operasi tersebut dilaporkan oleh The Global New Light of Myanmar dan dikutip AFP, Rabu (19/11). Media pemerintah Myanmar menyebut aparat memasuki kawasan yang selama bertahun-tahun dituding sebagai sarang kriminal transnasional, mulai dari perjudian, prostitusi, hingga penipuan online bermodus investasi dan asmara.
“Selama operasi, 346 warga negara asing yang tengah diselidiki telah ditangkap,” tulis laporan media pemerintah tersebut.

Selain menangkap ratusan WNA, aparat juga menyita hampir 10.000 ponsel yang digunakan untuk menjalankan operasi scam dan judi online (judol).
Kawasan ‘Kota Kriminal’ dan Jaringan She Zhijiang
Salah satu entitas yang disebut terkait pengelolaan Shwe Kokko adalah perusahaan Yatai milik She Zhijiang. She, pengusaha keturunan China-Kamboja, merupakan buronan internasional yang diyakini memimpin jaringan kriminal lintas negara. Ia sempat ditangkap di Thailand pada 2022 dan baru diekstradisi ke China pekan lalu.
Amerika Serikat dan Inggris sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap She dan perusahaannya. Washington menuding She mengubah desa kecil di tepian sungai perbatasan menjadi kota resor kriminal—pusat perjudian, narkoba, prostitusi, hingga penipuan digital yang menyasar korban di berbagai negara.
Sejak kudeta 2021, wilayah perbatasan Myanmar menjadi ruang bebas bagi kelompok kriminal untuk mengembangkan industri scam online berskala besar. Ribuan pekerja dari berbagai negara direkrut, bahkan diperdagangkan, untuk mengoperasikan jaringan penipuan yang menghasilkan puluhan miliar dolar per tahun.
Kelompok milisi pro-junta dan aktor politik lokal diduga memberikan perlindungan demi menjaga arus keuntungan.
China menjadi salah satu negara yang paling vokal menekan junta karena banyak warga mereka menjadi korban maupun pelaku dalam jaringan ini. Penindakan yang mulai masif sejak Februari dinilai sebagai respons langsung atas tekanan Beijing.
Penggerebekan Bukan yang Pertama
Sebelumnya pada Oktober, aparat Myanmar juga mengumumkan operasi di kompleks KK Park, pusat scam lain yang jaraknya tak jauh dari Shwe Kokko. Di sana, lebih dari 600 bangunan dilaporkan sedang dibongkar.
Sejak operasi besar-besaran dimulai awal tahun, junta mengklaim sudah memulangkan sekitar 7.000 tersangka pelaku penipuan ke negara asal mereka. Aksi ini turut memicu Thailand menerapkan blokade internet lintas perbatasan untuk menekan aktivitas kriminal digital.
Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah-langkah junta tidak sepenuhnya lepas dari motif politik. Tekanan dari Beijing perlu dijawab, namun keuntungan ekonomi dari jaringan kriminal di wilayah konflik tetap menjadi faktor yang dijaga oleh kelompok bersenjata pro-junta.
Sementara itu, dalam pernyataannya, militer Myanmar justru menuding kelompok oposisi bersenjata sebagai pihak yang membiarkan markas-markas scam berkembang. Aparat mengklaim baru bisa bertindak setelah “merebut kembali kendali teritorial”.
Menurut laporan PBB, korban penipuan online di Asia Tenggara dan Asia Timur mengalami kerugian hingga 37 miliar dolar AS sepanjang 2023, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat kejahatan digital paling merugikan di dunia. (*/Rel)




