PADANG PARIAMAN, ALINIANEWS.COM — Komitmen menghadirkan pelayanan pemenuhan gizi yang profesional dan berkeadilan kembali ditegaskan melalui suksesnya tahapan Seleksi dan Wawancara terhadap 96 orang Calon Relawan SPPG Alinia Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman.
Seleksi ini merupakan bagian penting dari persiapan operasional SPPG Alinia Pakandangan, yang berada di bawah naungan Yayasan Setia Minang Barokah dan bermitra strategis dengan Alinia Group sebagai investor. Proses wawancara dilakukan secara langsung oleh Drs. H. Marlis, MM, C.Med, didampingi Ilham Halim (SPPI), dengan pendekatan yang mengedepankan profesionalisme, integritas, dan empati sosial.
Dari total 96 peserta yang mengikuti seleksi dengan penuh antusias dan harapan, sebanyak 43 orang akan diterima untuk mengisi posisi strategis, yang terdiri dari Driver, Sekuriti, serta Petugas Dapur. Mereka inilah yang nantinya akan menjadi garda terdepan dalam memastikan pelayanan SPPG berjalan aman, tertib, dan memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan.


Dalam keterangannya, Drs. H. Marlis, MM, C.Med menyampaikan bahwa proses seleksi ini bukan semata-mata mencari tenaga kerja, melainkan memilih mitra pengabdian yang memiliki kepedulian sosial, kedisiplinan, dan kesiapan melayani masyarakat.
> “Relawan SPPG bukan sekadar pekerja dapur atau petugas teknis. Mereka adalah bagian dari sistem pelayanan negara dalam memastikan hak gizi masyarakat terpenuhi dengan baik, aman, dan bermartabat,” ungkapnya.
Dengan telah rampungnya pembangunan fisik SPPG Alinia Pakandangan serta selesainya tahapan seleksi akhir calon relawan, diharapkan awal tahun 2026 mendatang SPPG ini sudah dapat beroperasi secara maksimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat penerima layanan.
SPPG Alinia Pakandangan sendiri merupakan satu dari tujuh SPPG yang dibangun dan dikelola oleh ALINIA GROUP, sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung program nasional pelayanan pemenuhan gizi serta penguatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Kehadiran SPPG ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelayanan gizi, tetapi juga simbol kolaborasi antara yayasan, investor, relawan, dan masyarakat dalam mewujudkan pelayanan publik yang berkelanjutan, manusiawi, dan berorientasi masa depan. (*/ Redaksi )




