Sekjen HMD GEMAS: Pernyataan Ketua BEM UGM Soal MBG Keliru dan Tidak Mencerminkan Etika Intelektual
Bandung, 21 Februari 2026 — Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD GEMAS Indonesia), Yusuf Supriadi, SE, memberikan klarifikasi tegas sekaligus tanggapan resmi atas pernyataan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan istilah yang dinilai tidak beretika dan menyesatkan opini publik.
Yusuf menegaskan bahwa setiap kebijakan publik, termasuk MBG, sangat terbuka untuk dikritik, namun kritik tersebut harus disampaikan secara beradab, objektif, dan berbasis pemahaman lapangan, bukan dengan narasi mengumpat yang justru merusak marwah intelektual mahasiswa.

> “Adapun kekurangan dan proses menuju lebih baik itu adalah bagian dari berproses. Sama seperti sekolah, semuanya butuh waktu. Koreksi boleh, sangat boleh. Tapi koreksi itu harus membangun, bukan mengumpat,” tegas Yusuf.
Ia menjelaskan bahwa Program MBG bukan kebijakan yang lahir secara instan. Sebelum berjalan nasional pada Januari, program ini telah melalui tahapan uji coba, salah satunya di Kabupaten Garut, tepatnya di Pesantren Persis Rancabogo, Tarogong Kidul, sejak Desember, dengan melibatkan berbagai pihak di lapangan.
> “Kami hadir langsung, turun ke lapangan bersama relawan dan masyarakat. Jadi sangat keliru jika ada pihak yang ujug-ujug menyimpulkan dan melabeli MBG dengan istilah kasar tanpa memahami proses dan fakta lapangan,” ujarnya.
Kritik Tanpa Etika Dinilai Merusak Marwah Mahasiswa
Yusuf mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan. Namun peran tersebut, menurutnya, harus dijalankan dengan etika intelektual dan tanggung jawab moral, bukan dengan tuduhan serampangan.
> “Kami juga pernah menjadi mahasiswa, pernah turun demonstrasi. Memberi masukan itu proses panjang: mengingatkan, mengoreksi, dan menawarkan solusi. Bukan langsung ‘jebret’ menuduh program negara sebagai maling,” kata Yusuf.
Ia menilai, pernyataan Ketua BEM UGM tersebut tidak hanya keliru secara substansi, tetapi juga berpotensi menyesatkan publik serta menciptakan persepsi negatif terhadap program strategis nasional yang sedang berjalan.
MBG Mengajarkan Nilai, Bukan Sekadar Makan Gratis
Lebih jauh, Yusuf menekankan bahwa Program MBG bukan hanya soal penyediaan makanan, melainkan juga pendidikan karakter dan nilai sosial bagi generasi muda.
Ia menyebutkan berbagai nilai positif yang tumbuh dari implementasi MBG, antara lain kedisiplinan relawan, kesadaran kebersihan, kesederhanaan menu dan kebutuhan gizi, kebersamaan, serta pemahaman pola makan sehat.
> “Anak-anak di seluruh Indonesia belajar bahwa kebutuhan gizi itu tidak selalu mahal. Mereka belajar disiplin, hidup sederhana, menjaga kebersihan, dan kebersamaan. Ini pembelajaran yang luar biasa,” jelasnya.
Menggerakkan Ekonomi Rakyat Kecil
Selain berdampak pada anak-anak, Yusuf menegaskan bahwa MBG juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar melalui penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi lokal.
> “Di lingkungan kami, lulusan SD, SMP, SMA, bahkan yang tidak sekolah, mendapatkan kesempatan bekerja. Pedagang telur, sayur, hingga pelaku usaha kecil ikut bergerak. Ini fakta di lapangan, bukan sekadar teori,” tegasnya.
Ajakan untuk Kritik yang Bermartabat
Di akhir pernyataannya, Yusuf mengajak seluruh elemen mahasiswa, termasuk BEM UGM, untuk tetap kritis namun menjaga etika dan akal sehat dalam menyampaikan pendapat.
> “Silakan kritik, silakan koreksi. Tapi mari jaga etika intelektual. Bangsa ini tidak dibangun dengan umpatan, melainkan dengan gagasan, data, dan niat tulus untuk memperbaiki,” pungkas Yusuf. (*/ Redaksi )




