spot_img
spot_img

Putin Sambut Rencana Damai AS, Ancam Kuasai Lebih Banyak Wilayah Jika Ukraina Menolak

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan menyambut baik rencana perdamaian yang diusulkan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang di Ukraina. Ia menilai proposal yang didukung Presiden AS Donald Trump itu dapat menjadi dasar mencapai penyelesaian konflik antara Moskow dan Kyiv.

“Saya meyakini bahwa hal ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penyelesaian damai final,” ujar Putin dalam rapat Dewan Keamanan Rusia pada Jumat (21/11), seperti dilaporkan AFP, Sabtu (22/11/2025).

Namun di saat yang sama, Putin menegaskan bahwa jika Ukraina menolak rencana tersebut, Rusia akan terus melanjutkan ofensifnya. Ia bahkan mengancam akan merebut lebih banyak wilayah Ukraina jika Presiden Volodymyr Zelensky enggan bernegosiasi.

Iklan

Ancaman Terus Bergerak Maju

Putin menyampaikan bahwa Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya harus memahami realitas di medan perang, yakni pasukan Rusia yang disebutnya “sedang bergerak maju”. Ia menilai penolakan terhadap rencana damai itu hanyalah ilusi.

“Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya masih hidup dalam ilusi dan bermimpi untuk mengalahkan Rusia secara strategis di medan perang,” katanya.

Moskow saat ini menguasai lebih dari 19 persen wilayah Ukraina, atau sekitar 115.500 kilometer persegi hanya naik tipis dari dua tahun lalu. Rusia menginginkan kontrol penuh atas Donbas, yakni Donetsk dan Luhansk, serta wilayah Kherson dan Zaporizhzhia.

Putin juga mengklaim bahwa pasukannya telah menguasai hampir seluruh kota Kupiansk di timur Ukraina pada 4 November. Kyiv membantah klaim tersebut. Namun Putin menegaskan bahwa kemajuan serupa akan terus terjadi jika Ukraina tetap menolak usulan perdamaian AS.

“Jika Kyiv tidak ingin membahas usulan Presiden Trump dan menolaknya, maka mereka dan para penghasut perang Eropa harus memahami bahwa peristiwa di Kupiansk pasti akan terulang di sektor-sektor kunci lainnya di garis depan,” ujarnya.

“Dan secara umum, itu akan menguntungkan kami,” tambah Putin, seraya menyatakan dirinya terbuka untuk pembicaraan lebih lanjut.

Isi Rencana Perdamaian

Rencana perdamaian 28 poin yang disusun AS dinilai banyak mengakomodasi tuntutan Moskow. Beberapa poin utamanya mencakup:

  • Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayah timurnya kepada Rusia.

  • Kyiv memangkas jumlah tentaranya.

  • Ukraina berjanji tidak akan pernah bergabung dengan NATO.

  • Tidak ada pengerahan pasukan penjaga perdamaian Barat di Ukraina.

  • Rusia kembali diterima dalam kelompok G8.

  • Keringanan sanksi diberikan, namun dapat diberlakukan kembali jika Rusia menyerang lagi.

Putin mengatakan Moskow telah menerima salinan rencana tersebut, namun belum membahasnya secara rinci dengan AS. Ia juga menyebut bahwa Rusia telah mengajukan kompromi seperti yang diminta Washington sejak pertemuan di Alaska pada Agustus lalu.

“Pemerintah AS sejauh ini gagal mendapatkan persetujuan dari pihak Ukraina. Ukraina menentangnya,” ujar Putin.

Dalam pidato terbaru pada Jumat (21/11), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan menolak rencana perdamaian tersebut. Ia menilai isi proposal itu memberikan dilema yang berat bagi negaranya.

Zelensky menyebut rencana yang didukung Trump itu memberikan “pilihan yang sangat sulit” bagi Kyiv. Menurutnya, Ukraina dipaksa memilih antara “kehilangan martabat” atau “kehilangan dukungan dari sekutu utamanya, AS”.

Meski demikian, Zelensky memastikan akan menyiapkan usulan alternatif terhadap rencana perdamaian buatan AS itu. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses