JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden RI Prabowo Subianto menyaksikan penandatanganan perjanjian kerangka kerja antara Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia (BPI Danantara) dan Arm Limited di London, Inggris, Senin (23/2). Kesepakatan ini menjadi langkah awal pengembangan desain semikonduktor atau chip nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan desain chip nasional tersebut akan difokuskan pada enam bidang intellectual property (IP) strategis.
“Enam ini merupakan IP, intellectual property, yang kita bisa pilih apakah satu untuk teknologi otomotif, kedua internet of things, ketiga terkait dengan data center, kemudian bisa juga tentang home appliances, yang dua lagi kita bisa pilih apakah kita mau yang futuristic, terutama autonomous vehicle, dan quantum computing, dan yang lain. Jadi ini semua masih dibahas nanti dengan Danantara, sehingga ini IP-nya akan dipegang oleh Indonesia,” kata Airlangga dalam keterangan pers, Selasa (24/2).

Menurut Airlangga, kerja sama dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menguasai teknologi hulu industri semikonduktor. Ia menyebut Arm sebagai salah satu pemain utama dalam desain chip global.
Dalam industri semikonduktor, kata dia, Arm menguasai sekitar 96 persen teknologi chip untuk sektor otomotif global serta hampir 94 persen desain chip untuk pusat data dan kecerdasan buatan (AI).
“Dan Arm ini adalah salah satu perusahaan yang menguasai pasar semikonduktor terutama untuk dari segi desain. Jadi ini yang paling hulu daripada industri semikonduktor itu sendiri,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia ditargetkan mampu melatih 15 ribu engineer agar menguasai teknologi chipset. Pemerintah berharap langkah tersebut menjadi fondasi bagi penguatan kapasitas nasional di bidang semikonduktor.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyatakan kemitraan ini diharapkan berdampak luas terhadap pengembangan industri nasional sekaligus memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia.
Program peningkatan kapasitas itu, kata Rosan, akan dijalankan melalui pengiriman tenaga ahli ke luar negeri maupun dengan menghadirkan pelatih dari Arm ke Indonesia menggunakan modul pelatihan khusus.
“Rencananya juga seperti yang sampaikan Pak Menko ada 15 ribu engineer kita yang akan di-train, dilatih oleh Arm ini baik dengan mengirimkan mereka ke sini ataupun nanti pengajar mereka akan datang ke Indonesia dengan modul-modulnya,” ujar Rosan. (*/Rel)




