Oleh : Armunadi
Pada 3 April 2025, saya menyaksikan Festival Tanggal 3 di Ladang Tari Nan Jombang, sebuah acara yang rutin menghadirkan pertunjukan seni tradisi maupun kontemporer. Festival ini telah memasuki tahun ke-13, dan selama 10 tahun terakhir mendapatkan dukungan penuh dari Program Bakti Budaya PT. Djarum Foundation. Malam itu, suasana terasa istimewa bagi Eri Mefri. Selain kehadiran para penggiat Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat, dan seniman lainnya, hadirnya seluruh anggota keluarga; istri-istri, anak-anak, dan cucu-cucu memberikan kebahagiaan mendalam bagi pimpinan Nan Jombang Dance Company ini.
Pertunjukan malam itu dibuka dengan karya tari kreasi dari Sanggar Anak Indonesia. Sementara itu, pertunjukan utama malam itu adalah *Pusako Sakti Minangkabau* oleh Group Takbiran Umaimah dari Kabupaten Tanah Datar, yang membawakan karya berjudul *Minangkabau Maimbau Pulang*.

Karya ini merupakan lantunan takbir yang disajikan dalam iringan musik yang cukup memukau. Kolaborasi alat musik gendang tambur, drum, gitar, bas elektrik, rebana, dan satu set talempong menghasilkan suasana yang berbeda. Lantunan takbir yang biasanya terdengar di penghujung bulan Ramadan kini dihadirkan dalam ruang pertunjukan Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.
Momen ini terasa sangat tepat karena masih dalam suasana Lebaran. Alunan takbir yang begitu indah, ditambah dengan iringan musik, membangun atmosfer religius. Di awal pertunjukan, dua lelaki muncul di panggung—satu menampilkan gerakan silat, sementara yang lain menggambarkan pergulatan batin dalam memahami kehidupan, mempertanyakan dan berdialog dengan Tuhan. Tidak lama kemudian, beberapa orang muncul dari belakang panggung, mengambil posisi di depan, dan mengumandangkan kalimat *“Hayya ‘ala al-falah”* sebelum takbir mulai dipimpin oleh salah satu dari mereka.
Secara musikal, saya merasakan bahwa aransemen yang dibangun menggambarkan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Saat takbir dilantunkan, musik melambat, memperkuat nuansa religius. Namun, ada dinamika tertentu yang terasa kurang sejalan dengan esensi kesakralan takbir itu sendiri.
Menurut saya, unsur yang paling menciptakan kesakralan adalah lantunan takbir dan puji-pujian kepada Allah. Dengan nada tinggi dan lembut, suasana sakral dapat terbangun dengan kuat. Namun, dalam pertunjukan ini, musik lebih mewakili perasaan kemenangan daripada kekhusyukan. Tentu, keduanya tidak bertolak belakang, tetapi saya merasa musiknya bisa lebih diarahkan untuk menggiring suasana menuju kondisi transendental—yakni keadaan batin yang khusyuk, tenang, dan mendalam. Saya ingin menegaskan bahwa dalam konteks ini, kondisi transendental bukanlah kehilangan kesadaran atau kontrol diri, tetapi pencapaian spiritual yang lebih dalam melalui harmonisasi musik dan lantunan takbir.
Sebenarnya, lantunan takbir yang biasa kita dengar, meskipun hanya diiringi alat perkusi sederhana, sudah memiliki kekuatan untuk membangun ketenangan, kegembiraan, dan kelembutan jiwa melalui tempo dan dinamika suara. Namun, dalam pertunjukan ini, saya merasa para pelantun takbir dan puji-pujian seperti berjuang sendiri untuk menciptakan kondisi tersebut. Musik yang mengiringi mereka tidak sepenuhnya mendukung pencapaian atmosfer sakral yang lebih mendalam.
Bukan berarti alat musik yang digunakan menjadi masalah, melainkan bagaimana tempo dan dinamika suara diatur untuk menciptakan keseimbangan yang lebih harmonis dengan lantunan takbir. Tempo stabil dan dinamika yang lebih lembut mungkin dapat membawa audiens ke kondisi batin yang lebih khusyuk.
Secara keseluruhan, *Minangkabau Maimbau Pulang* adalah pertunjukan yang mengesankan dalam banyak aspek, terutama dalam eksplorasi musik dan komposisi vokalnya. Namun, ada ruang untuk eksplorasi lebih lanjut dalam bagaimana musik dapat lebih berkontribusi pada pengalaman transendental yang diharapkan dalam konteks lantunan takbir. Saya yakin dengan sedikit penyesuaian dalam tempo dan dinamika musik, karya ini dapat menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih mendalam bagi para penontonnya.




