spot_img
spot_img

Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS Picu Kecaman Global

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, memicu gelombang kecaman dari berbagai negara di dunia. Operasi yang diklaim dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum Amerika Serikat itu dinilai melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan Maduro dan Cilia Flores telah ditangkap dan diterbangkan keluar Venezuela. Washington juga melancarkan serangan ke wilayah Venezuela pada Sabtu (3/1), sebuah eskalasi yang menimbulkan kekhawatiran luas, baik di dalam negeri Venezuela maupun di komunitas internasional.

Pemerintah Venezuela menolak keras tindakan tersebut dan mengecam Amerika Serikat atas pelanggaran kedaulatan negara. Caracas membawa isu ini ke forum internasional dan menegaskan bahwa penangkapan kepala negara yang sedang menjabat merupakan preseden berbahaya bagi tatanan global.

Iklan

Kecaman keras datang dari Rusia. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut aksi Amerika Serikat sebagai agresi bersenjata yang tidak dapat diterima.

“Dalam situasi saat ini, penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada pencarian jalan keluar dari situasi tersebut melalui dialog,” ujar Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip Al Jazeera.

Moskow juga menegaskan solidaritasnya terhadap Venezuela.
“Kami menegaskan kembali solidaritas kami dengan rakyat Venezuela dan dukungan kami terhadap kebijakan kepemimpinan mereka dalam membela kepentingan nasional dan kedaulatan negara,” lanjut pernyataan tersebut. Rusia menilai penangkapan Maduro dan istrinya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara merdeka.

BACA JUGA  China Desak AS Cabut Tarif Sepihak Usai Putusan Mahkamah Agung, Trump Umumkan Tarif Baru 15 Persen

China turut mengecam keras langkah Washington. Kementerian Luar Negeri China menyebut penangkapan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

“Pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” kata Kemenlu China, mengutip AFP, Minggu (4/1).

Beijing mendesak Amerika Serikat segera membebaskan Maduro dan Cilia Flores serta menjamin keselamatan pribadi keduanya.
“Hentikan menjatuhkan Pemerintah Venezuela,” tegas pernyataan itu.

Korea Utara juga melontarkan kecaman tajam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut, dalam pernyataan yang dimuat kantor berita KCNA, menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.

“Peristiwa ini sekali lagi dengan jelas menunjukkan sifat AS yang brutal dan bertindak seperti negara bandit,” ujar juru bicara tersebut, dikutip AFP.

Dari Timur Tengah, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pesan perlawanan terhadap tekanan asing melalui akun X miliknya.

“Yang penting adalah ketika seseorang menyadari musuh ingin memaksakan sesuatu pada pemerintah atau negaranya dengan klaim palsu, mereka harus berdiri teguh melawan musuh tersebut,” tulis Khamenei.
“Kita tidak akan menyerah kepada mereka. Dengan mengandalkan Tuhan dan percaya pada dukungan rakyat, kita akan membuat musuh bertekuk lutut,” lanjutnya.

Kementerian Luar Negeri Iran secara terpisah menyatakan “mengutuk keras serangan militer Amerika terhadap Venezuela dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah negara tersebut.”

Di Amerika Latin, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menilai tindakan AS telah melampaui batas yang dapat diterima.

BACA JUGA  China Desak AS Cabut Tarif Sepihak Usai Putusan Mahkamah Agung, Trump Umumkan Tarif Baru 15 Persen

“Menyerang negara lain, yang terang-terangan melanggar hukum internasional, adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan, di mana hukum yang terkuat mengalahkan multilateralisme,” tulis Lula di media sosial X.

Lula menyebut serangan itu mengingatkan pada “momen-momen campur tangan terburuk” dalam sejarah Amerika Latin dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merespons secara tegas.

Selain negara-negara besar, sejumlah negara lain juga menyatakan penolakan terhadap langkah Trump, antara lain Kolombia, Bolivia, Trinidad dan Tobago, Ekuador, Uruguay, Chile, Panama, Meksiko, Prancis, Malaysia, dan Indonesia.

Menurut laporan NDTV dan Al Jazeera, penangkapan Maduro dan istrinya dilakukan atas tuduhan keterlibatan dalam narkoterorisme, jaringan peredaran narkoba internasional, konspirasi impor kokain ke AS, serta kepemilikan senapan mesin dan alat perusak. Keduanya kini ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC), Brooklyn, New York, dan menghadapi berbagai tuntutan federal.

Di sisi lain, sejumlah negara menyatakan dukungan terhadap langkah Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan ucapan selamat kepada Trump atas apa yang disebutnya sebagai “kepemimpinan yang berani dan bersejarah,” serta memuji ketegasan pasukan AS.

Wilayah Somaliland, yang memproklamirkan diri sebagai negara merdeka dan hanya diakui Israel, juga menyatakan dukungan. Kementerian Luar Negeri Somaliland menyebut pihaknya “selaras secara prinsip dengan Amerika Serikat dalam mendukung tindakan internasional yang terukur untuk menegakkan supremasi hukum di Venezuela.”

BACA JUGA  China Desak AS Cabut Tarif Sepihak Usai Putusan Mahkamah Agung, Trump Umumkan Tarif Baru 15 Persen

Negara-negara yang dilaporkan mendukung AS antara lain Argentina, El Salvador, Ekuador, Italia, Albania, Makedonia Utara, Kosovo, serta Israel.

Perbedaan sikap global ini kembali menyoroti perdebatan mendasar soal kedaulatan negara, larangan penggunaan kekuatan, dan peran Piagam PBB dalam menjaga ketertiban internasional. Dewan Keamanan PBB pun disebut-sebut sebagai forum krusial untuk merespons krisis yang berpotensi memperuncing ketegangan geopolitik tersebut. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses