AGAM, ALINIANEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) memberikan klarifikasi terkait biaya pengobatan ratusan korban keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lubuk Basung.
“Karena ini sudah kita tetapkan kejadian luar biasa dan masyarakat yang tidak memiliki BPJS Kesehatan akan kita tanggung biaya pengobatannya,” kata Bupati Agam, Benni Warlis, Kamis (2/10/2025).
Benni mengungkapkan terdapat tujuh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Ia memberi ultimatum agar pemilik SPPG segera mengurus sertifikat tersebut.

“Yang pasti, kalau mereka tidak mengurus SLHS maka saya yang akan mendatangi langsung karena ini menyangkut kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Kasus dugaan keracunan MBG bermula dari menu nasi goreng yang dikonsumsi warga pada Rabu (1/10/2025). Korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa TK, SD, SMP, MTs, guru, orang tua, hingga balita. Mereka dirawat di Puskesmas Manggopoh, Puskesmas Lubuk Basung, RSUD Lubuk Basung, dan RSIA Rizki Bunda.
Hingga Kamis siang, jumlah korban mencapai 113 orang. Sekretaris Daerah Agam, Muhammad Luthfi, menyebut kasus ini resmi ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Sesuai dengan kesepakatan rapat tadi malam, Pak Bupati sudah menetapkan kasus ini sebagai KLB. Penetapan KLB dilakukan sampai kondisi dianggap aman,” ujar Luthfi di RSUD Lubuk Basung.
Ia menambahkan, Pemkab tengah melakukan pelacakan ke sekolah-sekolah yang menerima suplai makanan dari dapur penyedia tersebut. “Kita sedang melakukan tracking terhadap sekolah-sekolah yang mendapat suplai makanan tersebut. Kalau ada gejala, mungkin kita akan melakukan tindakan lebih lanjut,” jelasnya.
Direktur RSIA Rizki Bunda Lubuk Basung, drg Nurul Maulina Aladin, mengatakan gejala yang dialami korban bervariasi. “Gejalanya bervariasi mulai dari mual, muntah, ada yang diare juga. Korban usianya itu dari usia SMP ya, yang paling besar itu 14 tahun. Terus ada yang SD juga, ada yang TK juga ada,” ujarnya.
Kasus Juga Terjadi di Kota Banjar, Jawa Barat
Tidak hanya di Agam, kasus keracunan massal MBG juga dilaporkan di Kota Banjar, Jawa Barat. Sebanyak 68 siswa dari kelas 7 hingga 9 SMP mengalami gejala setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Keluhan awal berupa mual dan pusing berkembang cepat menjadi sesak napas, memicu kepanikan di sekolah. Evakuasi berlangsung dramatis di tengah hujan deras. 20 ambulans dikerahkan untuk membawa para siswa ke tiga rumah sakit di Banjar: RSUD Banjar, RS PMC, dan RSRA Idaman.
Pihak berwenang di kedua daerah kini melakukan investigasi untuk memastikan penyebab keracunan dan mengevaluasi pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak terulang. (*/REL)




