Pandangan Akademisi Lintas Disiplin terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Instrumen Pembangunan Manusia
Jakarta, 25 Februari 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai langkah strategis negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan. Sejumlah akademisi lintas disiplin menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan instrumen kebijakan publik yang memiliki dampak luas terhadap pendidikan, kesehatan, sosial budaya, hingga penguatan ekonomi pangan nasional.
Dari perspektif pendidikan, pemenuhan gizi yang memadai dipandang sebagai prasyarat utama keberhasilan proses belajar. Asupan gizi seimbang berkontribusi langsung terhadap peningkatan konsentrasi, daya tahan belajar, dan kesiapan mental peserta didik di ruang kelas.

> “Kecukupan gizi adalah prasyarat dasar keberhasilan pendidikan. Anak yang gizinya terpenuhi akan memiliki energi belajar yang stabil, daya konsentrasi yang lebih baik, serta kesiapan mental untuk mengikuti proses pembelajaran secara optimal,” ujar Prof. Dr. H. Purwadhi, M.Pd., pakar pendidikan.
Dalam konteks kebijakan publik, MBG dinilai memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pembangunan manusia. Program ini menyatukan agenda pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu kerangka kebijakan yang terintegrasi.
> “MBG adalah program strategis dengan daya ungkit tinggi karena menyentuh persoalan mendasar bangsa, yakni kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Ini bukan bantuan sosial biasa, tetapi kebijakan pembangunan manusia,” kata Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, S.IP., M.Si., pakar kebijakan publik.
Sementara itu, dari sudut pandang sosial budaya, MBG dipandang perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang sensitif terhadap kearifan lokal. Penyesuaian menu berbasis budaya pangan daerah dinilai penting untuk meningkatkan penerimaan masyarakat sekaligus menanamkan edukasi pangan kepada generasi muda.
> “Makanan adalah bagian dari identitas budaya. Karena itu, MBG harus sensitif terhadap kearifan lokal agar diterima dengan baik oleh masyarakat sekaligus menjadi sarana edukasi budaya pangan kepada generasi muda,” ungkap Prof. Dr. Endang Caturwati, S.S.T., M.S., pakar sosial budaya.
Dampak MBG juga dirasakan pada sektor pertanian dan peternakan. Kebutuhan bahan pangan bergizi dalam skala besar mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan menggerakkan ekonomi lokal.
> “Program MBG telah menciptakan efek berganda yang nyata. Permintaan pangan bergizi mendorong peternak dan petani kembali produktif, sehingga roda ekonomi lokal bergerak secara berkelanjutan,” jelas Prof. Drh. Antimon Ilyas, Ph.D., pakar peternakan.
Para akademisi menilai, dengan tata kelola yang akuntabel, berbasis data, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, MBG berpotensi menjadi investasi sosial jangka panjang bagi bangsa.
Program ini diharapkan dapat memperkuat fondasi menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia melalui peningkatan kualitas gizi anak, penguatan kemandirian pangan nasional, serta kolaborasi lintas sektor yang berkesinambungan. (*/Redaksi )



