ALINIANEWS.COM — Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (DPP HMD GEMAS Indonesia), Yusuf Supriadi, SE menyampaikan tanggapan tegas, edukatif, dan bernuansa kebangsaan atas pernyataan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) yang belakangan menjadi perhatian publik.
Yusuf menegaskan bahwa kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi akademik, demokrasi, dan kebebasan berekspresi. Namun demikian, kritik seyogianya disampaikan dengan menjunjung tinggi etika, argumentasi yang berbasis data dan kajian objektif, serta kedewasaan berpikir yang mencerminkan jati diri insan kampus sebagai kaum terpelajar.
> “Dalam dunia akademik, perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Namun menyampaikan kritik dengan bahasa yang merendahkan, apalagi menggunakan diksi seperti ‘bodoh’ di ruang publik, bukanlah cerminan kecendekiawanan, dan tidak sejalan dengan nilai luhur perguruan tinggi,” tegas Yusuf.

Ia mengibaratkan bahwa sebagaimana seseorang yang baru belajar berenang tentu perlu kerendahan hati ketika memberi masukan kepada mereka yang telah lebih dahulu memiliki pengalaman dan rekam jejak. Kritik yang baik, lanjutnya, lahir dari kapasitas intelektual, integritas moral, serta kontribusi nyata, bukan semata keberanian retorik atau sensasi narasi.
Yusuf yg juga merupakan Aktifis dan Tokoh Organisasi Anti Pungli di Indonesia juga mengajak mahasiswa—khususnya para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)—untuk melakukan refleksi diri secara jujur dan mendalam: sejauh mana kemandirian telah dibangun, prestasi apa yang telah diukir sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, serta kontribusi konkret apa yang telah diberikan kepada lingkungan terdekat, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
> “Kritik akan jauh lebih bermakna apabila disertai karya, solusi, dan keteladanan. Akademisi tidak hanya diuji oleh kepiawaian berargumentasi, tetapi juga oleh kemampuan merealisasikan gagasannya agar memberi manfaat nyata bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan kebangsaan,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa pascasarjana yang tengah menempuh studi dan dalam tahap penyelesaian Tesis Magister (S2) di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Yusuf menyampaikan keprihatinannya terhadap kecenderungan sebagian aktivisme mahasiswa yang mulai menjauh dari nilai-nilai kesantunan, kedalaman analisis, dan tradisi intelektual yang menjadi fondasi gerakan mahasiswa Indonesia sejak masa awal perjuangan bangsa.
Menurutnya, sejarah telah mencatat bahwa mahasiswa selalu hadir sebagai agent of change dan moral force dalam setiap fase penting perjalanan republik. Oleh karena itu, peran strategis tersebut harus dijaga melalui sikap kritis yang beradab, narasi yang mencerahkan, serta orientasi perjuangan yang berpihak pada kepentingan rakyat dan persatuan nasional.
Yusuf menegaskan bahwa HMD GEMAS Indonesia, sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil yang mendukung program-program strategis nasional, senantiasa terbuka terhadap kritik dan masukan konstruktif. Namun ia menekankan bahwa kritik yang membangun harus diarahkan pada substansi kebijakan, bukan menyerang pribadi atau menggunakan bahasa yang berpotensi memecah belah.
> “Indonesia membutuhkan mahasiswa yang berani, cerdas, santun, dan solutif. Bukan sekadar lantang di media, tetapi juga konsisten dalam karya dan pengabdian. Inilah esensi peran mahasiswa dalam pembangunan bangsa,” pungkasnya.
Tentang HMD GEMAS Indonesia
Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD GEMAS Indonesia) merupakan organisasi yang berfokus pada penguatan kolaborasi masyarakat dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul melalui pemenuhan gizi, pemberdayaan ekonomi, dan partisipasi sosial yang berkelanjutan. (*/Marlis )




