PADANG, ALINIANEWS.COM — Malam itu, Selasa 3 November 2025, angin berembus lembut di halaman rumah Andrinof A. Chaniago. Saat memasuki pintu terlihat bahwa sang pemilik rumah langsung menyambut dengan senyum bahagia, sepertinya pertemuan itu telah disiapkan olehnya, bagi mereka yang datang, ketika langkah kaki berjalan menuju ruangan yang telah disediakan, maka aroma durian yang semerbak sudah tercium yang kemudian masuk ke sela-sela hidung, seakan telah lama menunggu kedatangan seseorang.
Andrinof, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang juga dikenal sebagai pemikir dan akademisi, mengundang sahabat-sahabat dekatnya dalam acara silaturahmi dan syukuran ulang tahun. Tak ada panggung, tak ada sambutan resmi.
Hanya sebuah meja panjang di tengah ruang tamu yang sederhana, dipenuhi durian yang menguar harum, ketan hangat yang mengepulkan uap, dan martabak Mesir yang baru dipotong.
Di sekelilingnya, tawa pecah, obrolan mengalir, dan waktu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya. Malam itu, aroma durian bercampur hangatnya persahabatan menyatukan tokoh lintas profesi dan lintas generasi dalam satu suasana yang akrab dan bersahaja. Tampak hadir sejumlah tokoh yang sudah tak asing di dunia sosial dan budaya: Khairul Jasmi, Edy Utama, Reno Fernandes, Muhammad Taufik, Hary Efendi Iskandar, Eka Vidya Putra, dan Yusrizal KW.

Obrolan pun mengalir tanpa sekat. Dari nostalgia masa lalu hingga pandangan soal arah pembangunan dan kehidupan sosial saat ini. Suasana terasa begitu cair dan akrab, seolah waktu berhenti berputar untuk memberi ruang bagi tawa dan ingatan yang tak akan bisa terhapuskan.
Waktu berjalan tanpa terasa ketika jarum jam sudah menunjukan angka sepuluh. Dalam kehangatan diskusi dan canda ringan, malam terasa cepat berlalu. Tak ada yang terburu-buru pulang, karena suasana kebersamaan terlampau sayang untuk diakhiri.
Acara ditutup dengan doa bersama. Semua yang hadir menundukkan kepala, memanjatkan syukur atas panjang umur, kesehatan, dan pertemanan yang terus terjalin. Malam itu bukan sekadar perayaan ulang tahun. Lebih dari itu, ia menjadi malam refleksi dan rasa syukur tentang perjalanan hidup, persahabatan, dan pentingnya menjaga silaturahmi di tengah kesibukan yang kian padat.
Dan di antara aroma durian yang masih samar tertinggal di udara, serta tawa yang perlahan menyisih digantikan sunyi malam, semangat kebersahajaan Andrinof A. Chaniago tetap menggema. Ia duduk tenang, menampung cerita yang datang dan pergi, seperti seorang sahabat lama yang tak pernah berubah.
Di tengah piring ketan yang mulai kosong dan martabak Mesir yang tinggal separuh, terasa betul kebahagiaan malam itu bukan tentang perayaan usia, melainkan tentang persahabatan yang terus hidup dalam kesederhanaan. (*/Red)




