Ketika MBG Mengubah Mindset Pengusaha dan Desa Menjadi Makmur
Oleh: Drs.H.Marlis,MM, C.Med ( Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas Pov. Sumbar )
Jakarta, 16 November 2025 – Program Makan Bergizi (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, hari ini menjelma menjadi gelombang ekonomi baru yang menghidupkan kembali desa-desa. Dengan menyasar lebih dari 83 juta penerima, MBG menciptakan pasar pangan raksasa yang stabil, pasti, dan berkelanjutan—sesuatu yang selama ini tidak pernah dinikmati oleh petani, Peternak, pembudidaya ikan dan UMKM.

Bukan sekadar program gizi, MBG sedang menjadi mesin ekonomi desa terbesar dalam dua dekade terakhir, dan melahirkan fenomena baru: Petani Kaya & Pengusaha Desa Modern.
Ledakan Permintaan yang Mengubah Peta Ekonomi Desa
Sejak pelaksanaan MBG, Kementerian Pertanian mencatat peningkatan permintaan komoditas pangan pada level yang sangat tinggi.
Kenaikan permintaan sayuran (6 bulan terakhir):
Wortel: +21%, Tomat: +25%, Buncis: +18%, Kacang Panjang: +17%, Labu Siam: +15%, dan termasuk Cabe, Tomat, serta sayuran lainnya.
Permintaan harian nasional untuk mendukung MBG: Sayuran: 25.000 ton/hari
Buah: 9.000 ton/hari
Telur: 80–120 juta butir/hari
Ayam: 3.000–4.000 ton/hari
Ikan air tawar: ±2.500 ton/hari
Ikan laut: ±1.000 ton/hari
Pasar sebesar ini tidak hanya menggerakkan roda pertanian dan perikanan, tetapi menciptakan peluang ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sektor Perikanan: Usaha Cepat, Modal Ringan, Untung Menggiurkan
Budidaya perikanan menjadi salah satu sektor yang paling cepat berkembang akibat MBG—terutama komoditas lele, patin, nila, dan gurame.
Keunggulan Kolam Terpal: Modal awal rendah, Panen cepat, Bisa dilakukan di lahan sempit,Cocok untuk pemula.
Suplai MBG stabil sepanjang tahun
Proyeksi Keuntungan Kolam Terpal Lele (3×4 m):
Panen: 200–250 kg
Keuntungan bersih: Rp 1,7–2,8 juta / 60 hari
5 kolam bisa menghasilkan Rp 8–12 juta / 60 hari
Proyeksi Keuntungan Patin:
Panen: 90–100 hari
Keuntungan bersih: Rp 2–3,5 juta per kolam per siklus
Usaha ini kini menjadi magnet bagi anak muda yang mulai kembali ke kampung untuk membangun ekonomi keluarga.
Pisang Cavendish & Barangan Merah: Emas Hijau dari Ranah Minang
Dari berbagai komoditas, pisang Cavendish dan Barangan Merah muncul sebagai komoditas paling strategis. Konsumsi nasional mencapai 8,2 juta ton/tahun, dengan tambahan kebutuhan MBG sekitar 1,3 juta ton/tahun.
Namun suplai nasional masih minus ±400.000 ton/tahun.
Potensi Pendapatan Pisang Cavendish (1 hektare):
Produksi: 20–30 ton
Pendapatan: Rp 200–300 juta
Laba bersih: Rp 80–140 juta/tahun
ni peluang emas bagi pengusaha muda Minang yang ingin masuk ke agribisnis modern.
PENYERAP TENAGA KERJA RAKSASA: Lulusan SLTA & Sarjana Tidak Perlu Lagi Berdesakan Menjadi ASN
Program MBG dan kebangkitan agribisnis modern telah melahirkan gelombang lapangan kerja baru di sektor: pertanian, perkebunan, perikanan, logistik, distribusi, packaging, teknologi pangan, dan manajemen supply chain.
Diperkirakan sektor ini dapat menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja baru dalam 3–5 tahun ke depan, dari level operator produksi hingga manajer lapangan.
Pesan Penting bagi Tamatan SLTA & Sarjana:
Tidak perlu lagi berdesakan mengantre lowongan kerja.
Tidak perlu lagi menggantungkan masa depan pada satu mimpi: menjadi ASN.
Era baru telah datang.
Lapangan kerja tidak lagi hanya berada di gedung-gedung pemerintah, tetapi di: kebun, kolam, lahan pertanian, rumah produksi pangan, dan sentra-sentra pengolahan hasil.
Inilah saatnya:
Sisingkan lengan baju, bekerja dengan optimisme, dan ambil bagian dalam sektor yang sedang tumbuh paling cepat di Indonesia.
Agribisnis hari ini bukan lagi pekerjaan orang tua—
tetapi arena anak muda yang ingin menjadi hebat, mandiri, dan kaya.
Penutup: Era Baru Petani Kaya Telah Dimulai
Program MBG telah mengubah wajah desa-desa di Indonesia.
Permintaan pangan melonjak, petani makmur, pembudidaya ikan tumbuh, dan anak muda kembali bergerak. Ini bukan sekadar transformasi ekonomi, tetapi perubahan cara pandang ( mindset ) :
bahwa kekayaan tidak lagi dicari melalui proyek Pemerintah, tetapi melalui produksi dan Trading. Jika peluang ini ditangkap hari ini, maka generasi mendatang akan mengenang masa ini sebagai awal kebangkitan era baru:
” Era Petani Kaya, Pengusaha Berdaya, dan Desa yang Makmur”
(*/ Marlis Alinia – Ketua Dewan Pembina Yayasan Alinia Entrepreneur Indonesia )



