JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan negara tersebut akan “dimusnahkan dari muka bumi” jika ada upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan News Nation yang ditayangkan Selasa (20/1) waktu setempat. Ancaman tersebut merespons spekulasi soal potensi serangan terhadap dirinya oleh pihak Iran.
“Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Apa pun yang terjadi, mereka akan memusnahkan mereka (Iran) dari muka bumi,” ujar Trump tegas.

Ancaman itu langsung dibalas oleh Iran. Pada hari yang sama, juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam bila pemimpin tertingginya diserang.
“Trump tahu bahwa jika tangan agresi diulurkan ke arah pemimpin kami, kami tidak hanya akan memutus tangan itu, dan ini bukan sekadar slogan,” kata Shekarchi kepada media pemerintah Iran, seperti dikutip AFP, Rabu (21/1/2026).
Ia bahkan melontarkan pernyataan lebih keras dengan menyebut Iran siap membalas secara total.
“Tapi kami akan membakar dunia mereka dan tidak akan memberi mereka tempat berlindung yang aman di wilayah ini,” tegasnya.
Ancaman saling balas ini memperlihatkan eskalasi serius antara dua negara yang sejak lama bermusuhan. Trump sebelumnya juga pernah melontarkan peringatan serupa sekitar setahun lalu, tak lama setelah kembali menduduki Gedung Putih.
Saat itu, ia mengatakan kepada wartawan, “Jika mereka melakukannya, mereka akan dimusnahkan.”
Di tengah memanasnya hubungan dengan Washington, Iran juga tengah menghadapi tekanan besar di dalam negeri. Negara itu baru saja diguncang gelombang protes anti-pemerintah terbesar sejak Revolusi Islam 1979.
Aksi demonstrasi pecah sejak Desember lalu, dipicu krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang nasional ke titik terendah dalam sejarah di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun.
Kelompok hak asasi manusia internasional masih berupaya memverifikasi jumlah korban tewas dalam kerusuhan tersebut. Laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyebutkan, lebih dari 4.000 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian unjuk rasa yang berlangsung di berbagai kota Iran.
Situasi ini memperlihatkan tekanan ganda yang dihadapi Teheran, baik dari dalam negeri maupun dari ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat, yang berpotensi memicu konflik berskala lebih besar jika tidak diredam. (*/Rel)




