spot_img
spot_img

JABATAN: BERKAH ATAU MUDHORAT?

JABATAN: BERKAH ATAU MUDHORAT?

Ketika Kekuasaan Kehilangan Wibawa, dan Rakyat Kehilangan Rasa Hormat

Oleh: Marlis Alinia

Iklan

Indonesia hari ini seperti kehilangan kompas moralnya.

Negeri yang dulu dikenal ramah, santun, dan menjunjung tinggi tata nilai, kini justru berubah menjadi ruang publik yang penuh kecurigaan. Rakyat tak lagi percaya kepada pemimpinnya. Dari balai desa hingga istana negara, dari kantor camat hingga gedung parlemen, rasa hormat terhadap pemegang kekuasaan kini berubah menjadi rasa muak. Bukan tanpa alasan. Terlalu banyak luka yang ditinggalkan oleh perilaku para pejabat yang mengkhianati amanah. Korupsi menjadi kebiasaan, suap menjadi kebudayaan, dan dusta menjadi alat pertahanan diri.

Ketika Pemimpin Tak Lagi Dimuliakan

Di warung kopi, di media sosial, bahkan di ruang keluarga, percakapan tentang pejabat selalu bernada getir.

“DPR? Semua cuma cari proyek.” “Polisi? Bisa beres asal ada amplop.” “Jaksa dan hakim? Bisa lunak kalau kantong tebal.” Kata-kata itu meluncur deras dari bibir rakyat, menggambarkan betapa dalam jurang kepercayaan yang kini menganga antara penguasa dan yang dikuasai. Anggota legislatif yang seharusnya menjadi lidah rakyat, kini dianggap hanya sibuk memperebutkan jatah proyek dan perjalanan dinas. Aparat penegak hukum (APH) yang diharapkan menjadi benteng keadilan, justru sering dituding memperdagangkan hukum.

Pejabat eksekutif di berbagai tingkatan pun tak luput dari stigma: korup, licik, dan haus citra. Akibatnya, setiap keputusan pemerintah — bahkan yang sebenarnya berpihak pada rakyat — disambut dengan cibiran. Rakyat sudah tak percaya lagi pada niat baik, sebab terlalu sering mereka dikhianati oleh janji.

BACA JUGA  Program Makan Bergizi Gratis Capai 44 Juta Penerima, Prabowo: “Ini Prestasi Membanggakan”

Kegelisahan di Ujung Kekuasaan

Namun di balik semua sorotan sinis itu, ada sisi lain yang jarang tampak di mata publik: batin para pejabat itu sendiri. Menjelang akhir masa jabatan, banyak yang tersiksa oleh rasa cemas. Bukan hanya karena takut kehilangan jabatan dan fasilitas, tetapi karena dihantui bayangan hukum, laporan masyarakat, dan rekam jejak yang tak bisa dihapus. Sebagian di antaranya mulai sadar, bahwa popularitas itu semu, dan jabatan tak ubahnya seperti istana pasir — megah di luar, rapuh di dalam. Begitu ombak datang, semuanya runtuh tanpa sisa.

Winston Churchill pernah berkata dengan getir:

> “Kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan ujian karakter. Orang kecil bisa menjadi besar karena kekuasaan, tapi orang besar bisa menjadi kecil karenanya.”

Dan Nelson Mandela menegaskan:

> “Untuk mengetahui karakter sejati seseorang, berilah dia kekuasaan.”

Kutipan-kutipan itu kini terasa nyata di negeri ini. Banyak pemimpin yang tampak bijak sebelum berkuasa, namun berubah menjadi serigala setelah menduduki kursi empuk.

Ketika Moral Tersandera oleh Sistem

Mereka yang awalnya ingin membangun, perlahan terseret oleh arus sistem yang kotor.Kekuasaan menjadi candu; kekayaan menjadi ukuran; loyalitas buta menjadi tiket keselamatan. Dan ketika masa jabatan hampir usai, rasa takut mulai menghantui: takut diperiksa, takut dilupakan, takut dikucilkan. Di titik itulah, jabatan bukan lagi berkah, tapi mudhorat — beban yang menggerogoti hati dan menghancurkan nama baik.

BACA JUGA  KPK Kantongi Bukti Dugaan Penghilangan Barang Bukti di Kasus Korupsi Kuota Haji, Maktour Disorot

Albert Einstein pernah mengingatkan:

> “Kejahatan terbesar di dunia bukan dilakukan oleh mereka yang jahat, tapi oleh mereka yang membiarkan kejahatan terjadi dengan diam.”

Betapa banyak pejabat yang diam melihat kebusukan di sekitarnya, hanya karena takut kehilangan posisi.

Refleksi: Antara Amanah dan Kutukan

Kini, di tengah runtuhnya kepercayaan publik, pertanyaan besar itu muncul kembali: Apakah jabatan masih menjadi berkah, atau justru menjadi mudhorat? Jabatan bisa menjadi berkah bila dipegang oleh orang yang menganggapnya amanah, bukan peluang. Namun jabatan juga bisa menjadi kutukan bagi mereka yang memperdagangkannya untuk kekayaan pribadi. Dan ketika rakyat sudah tak lagi menghormati pemimpinnya, sesungguhnya bukan rakyat yang kehilangan adab — tapi pemimpinlah yang kehilangan teladan.

Penutup: Kembalilah ke Nurani

Bangsa ini sedang lapar — bukan hanya lapar pangan, tapi lapar akan kejujuran dan keteladanan. Rakyat bukan menuntut kesempurnaan, mereka hanya ingin pemimpinnya jujur dan berani berkata benar.

Martin Luther King Jr. pernah berkata:

> “Ukuran sejati seorang pemimpin bukanlah saat ia berdiri di saat nyaman, tetapi ketika ia berdiri tegak di saat krisis moral.”

Dan inilah krisis moral itu. Sebuah masa ketika jabatan tak lagi dimuliakan, dan kekuasaan kehilangan kehormatannya. Kini, tinggal satu pertanyaan tersisa bagi siapa pun yang sedang berkuasa : Apakah jabatan yang engkau genggam itu akan menjadi berkah bagi rakyatmu — atau menjadi mudhorat bagi dirimu sendiri? (*/Marlis Alinia )

BACA JUGA  Puan Maharani Serukan Darurat Kekerasan Anak Usai Kasus Alvaro Kiano

 

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses