SOLO, ALINIANEWS.COM — Konflik perebutan takhta Keraton Kasunanan Surakarta kembali meletup. Dua putra mendiang SISKS Pakubuwono XIII KGPH Hangabehi (Mangkubumi) dan KGPAA Hamangkunegoro (Purbaya) sama-sama mengklaim diri sebagai penerus raja, memicu ketegangan internal yang menyeret kembali kisruh suksesi seperti pada masa penobatan PB XIII pada 2004 silam.
Situasi memanas setelah KGPH Hangabehi resmi dinobatkan sebagai Pangeran Pati, calon raja Keraton Surakarta, dalam rapat keluarga besar yang digelar di Sasana Handrawina, Kamis (13/11). Rapat tersebut dipimpin Maha Menteri Keraton, KG Panembahan Agung Tedjowulan, dan dihadiri perwakilan trah raja, sentana dalem, serta sejumlah paguyuban binaan Keraton.
“Pada saat itu ada pelantikan. Pelantikan putranya Pakubuwana XIII yaitu Gusti Mangkubumi sebagai Pangeran Pati atau calon raja,” ujar GPH Suryo Wicaksono atau Gusti Nenok.
Namun, suasana mendadak memanas. GKR Timoer Rumbay, kakak kandung Hangabehi, masuk ke lokasi dan memprotes keras penobatan tersebut.
“Mereka mengatakan bahwa acara ini bertentangan dengan komunikasi internal mereka,” kata Nenok.

GKR Timoer: “Mangkubumi berkhianat”
GKR Timoer yang merupakan putri sulung PB XIII secara tegas menolak penetapan adiknya sebagai penerus takhta. Ia menyebut Hangabehi mengingkari kesepakatan keluarga yang telah disetujui bersama sebelumnya.
“Saya cuma sedih saja Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya. Itu saja yang saya sesalkan,” ujarnya.
Timoer mengungkap bahwa keluarga inti PB XIII sebenarnya telah sepakat menetapkan KGPAA Hamangkunegoro sebagai putra mahkota. Kesepakatan itu, katanya, dibuat dalam pertemuan keluarga yang turut disaksikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Wali Kota Solo Respati Ardi, dan mantan Wali Kota Solo Teguh Prakosa.
“Kami sudah bersepakat untuk putra mahkota… yaitu Pangeran Adipati Anom Hamangkunagoro. Kami sudah berbicara di hadapan Pak Gubernur, Bapak Respati, dan Bapak Gibran,” kata Timoer.
Ia juga menilai rapat yang menetapkan Mangkubumi tidak sah karena tidak dihadiri keluarga inti PB XIII.
“Yang hadir dari pihak PB XII hanya enam orang, yang dua walk out dari 23 yang diundang. Silakan Anda menilai sendiri apakah ini benar dari segi hukum maupun adat,” ujarnya.
Di pihak lain, Panembahan Agung Tedjowulan mengaku tidak mengetahui bahwa rapat tersebut akan mengukuhkan Mangkubumi.
“Saya mboten nate diajak rembukan pengukuhan dan sebagainya,” katanya.
Menurutnya, rapat semula hanya dimaksudkan untuk mengimbau semua pihak menahan diri selama masa berkabung. Ia memastikan bahwa Jumenengan Dalem Binayangkare Pakubuwana XIV—penobatan versi keluarga Purbaya—tetap digelar pada Sabtu (15/11).
Dua raja dalam satu keraton
Kisruh ini bermula setelah PB XIII wafat 5 November 2025 dan disemayamkan di Keraton Solo. Sesaat sebelum jenazah diberangkatkan ke Imogiri, putra bungsu PB XIII, KGPAA Hamangkunegoro, secara terbuka mengumumkan dirinya naik takhta sebagai PB XIV dalam pidato pelepasan jenazah ayahnya.
Ia mendasarkan pengukuhan diri pada “sabda dalem” PB XIII.
“Pada hari ini… 5 November 2025, hanglintir kaprabon Dalem minangka Sri Susuhunan Keraton Surakarta Hadiningrat…” ujar Hamangkunegoro dalam bahasa Jawa halus.
Setelah itu, Keraton mengedarkan undangan resmi jumenengan pada 15 November. Persiapan penobatan disebut sudah mencapai 70 persen.
Namun di sisi lain, pada 13 November, rapat kerabat justru melantik KGPH Mangkubumi sebagai Pangeran Pati, lalu beberapa saat kemudian mengukuhkan dirinya sebagai Paku Buwono XIV.
GRAy Koes Moertiyah (Gusti Moeng) membenarkan pengukuhan tersebut.
“Iya, penobatan Paku Buwono XIV,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa paugeran adat menetapkan putra laki-laki tertua sebagai penerus takhta.
“Itu kehendak Allah. Gusti Bei tidak minta dilahirkan lebih tua dari Purbaya. Kalau nggak punya permaisuri, ya sudah anak laki-laki tertua,” kata Gusti Moeng.
Hangabehi: Mohon doa, belum ada langkah lanjutan
Usai dinobatkan, Hangabehi belum membeberkan langkah konkret.
“Mohon bersabar dulu, minta dukungan dan doanya yang terbaik untuk Keraton berjalan lebih baik ke depan,” ujarnya.
Ia mengaku belum melakukan komunikasi lanjutan dengan pihak lain.
“Terakhir ini belum ada komunikasi lagi, tapi nanti pasti berkomunikasi,” katanya.
Hangabehi juga menyebut urusan teknis keraton akan dikoordinasikan melalui Tedjowulan.
“Rencana terdekat belum terpikirkan, ini masih mau istirahat dulu,” ucapnya. (*/Rel)




