Kantor pusat Microsoft di Redmond, Washington, Amerika Serikat.
JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Suasana kantor pusat Microsoft di Redmond, Amerika Serikat, mendadak tegang pada Senin (25/8) ketika sekelompok demonstran dari kelompok No Azure for Apartheid menyerbu masuk ke Gedung 34 dan menduduki ruang kerja Presiden Microsoft, Brad Smith.

Aksi itu digelar untuk memprotes kontrak komputasi awan Microsoft dengan Israel, yang dituding menjadi bagian dari genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza. Para demonstran menyiarkan langsung aksi duduk mereka melalui Twitch, sambil mengibarkan spanduk dan meneriakkan, “Brad Smith, kau tidak bisa bersembunyi, kau mendukung genosida!”
Tak berhenti di situ, kelompok tersebut juga mengunggah tiruan surat panggilan pengadilan yang mendakwa Smith telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Menurut laporan The Verge, aksi ini melibatkan sejumlah karyawan aktif Microsoft serta mantan karyawan yang sebelumnya dipecat karena aktivisme serupa. TechCrunch menyebut aksi pada Senin itu merupakan eskalasi terbaru setelah berbulan-bulan gelombang protes terhadap kerja sama Microsoft dengan Israel.
Investigasi The Guardian baru-baru ini mengungkap bahwa Israel menggunakan layanan Microsoft untuk menyimpan data jutaan panggilan telepon harian dari warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Fakta inilah yang semakin memperkuat kemarahan aktivis.
Gelombang protes terhadap keterlibatan raksasa teknologi dengan militer Israel bukan hanya terjadi di Microsoft. Pada April 2024, sembilan karyawan Google menggelar aksi duduk terkoordinasi di New York dan California, bahkan menduduki ruang kerja CEO Google Cloud, Thomas Kurian, selama sembilan jam.
Dalam aksi itu, mereka menuliskan tuntutan di papan tulis, mengenakan kaus bertuliskan “Googler melawan genosida,” dan menyiarkannya langsung di Twitch. Tiga hari kemudian, sebanyak 28 karyawan yang ikut aksi langsung dipecat.
Protes tersebut menyoroti Proyek Nimbus, kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS antara Google, Amazon, dan pemerintah Israel untuk penyediaan komputasi awan serta kecerdasan buatan.
18 Orang Ditangkap, Termasuk Pegawai Microsoft
Aksi protes di kantor pusat Microsoft sempat berjalan damai pada hari pertama, Selasa (19/8). Namun, pada hari kedua suasana berubah ricuh. Demonstran mendirikan tenda yang mereka sebut “Liberated Zone”, menyiram cat merah ke logo Microsoft, memblokir jalur pejalan kaki, bahkan mencoba membuat penghalang dari meja dan kursi yang dicuri.
Polisi Redmond pun turun tangan. Total 18 orang ditangkap, termasuk satu pegawai Microsoft. Salah satunya adalah Anna Hattle, engineer software di tim cloud dan AI Microsoft.
Penangkapan Anna dikonfirmasi oleh Abdo Mohamed, mantan pegawai Microsoft sekaligus pengurus No Azure for Apartheid.
“Mereka yang ditangkap adalah pegawai dan mantan pegawai Microsoft, juga anggota komunitas Seattle,” ujar kelompok itu dalam keterangan resminya.
Kritik Menguat Usai Investigasi Microsoft
Demo besar-besaran ini terjadi hanya sekitar seminggu setelah Microsoft mengumumkan tengah melakukan investigasi independen atas penggunaan Azure oleh Israel. Namun, para aktivis menilai langkah tersebut hanyalah formalitas belaka.
No Azure for Apartheid menegaskan bahwa penggunaan software Microsoft oleh militer Israel berkontribusi langsung terhadap operasi militer dan pemantauan warga Palestina di Gaza.
Dengan dukungan karyawan aktif dan mantan pegawai, aksi di Redmond menjadi simbol perlawanan baru terhadap keterlibatan perusahaan teknologi dalam konflik berdarah Palestina-Israel.
(*/rel)




