PADANG, ALINIANEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menghadirkan dampak sosial melalui pemenuhan gizi anak bangsa, tetapi juga mulai menunjukkan peran strategisnya sebagai penggerak ekonomi sirkular di tingkat lokal. Salah satu contoh konkret terlihat dari operasional Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang kini mampu mengubah limbah dapur menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Di balik aktivitas memasak ribuan porsi makanan bergizi setiap hari, tersimpan potensi ekonomi yang selama ini luput dari perhatian. Bahan sisa yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini justru menjadi tambahan pendapatan yang signifikan bagi relawan dan pengelola SPPG.
Limbah Bernilai, Ekonomi Bergerak
Beberapa komoditas sisa dari aktivitas dapur SPPG terbukti memiliki nilai ekonomi cukup tinggi dan berkelanjutan:

1. Minyak Jelantah
Minyak bekas hasil pengolahan makanan menjadi salah satu komoditas unggulan.
Harga jual: Rp8.500 – Rp10.000/kg
Produksi: ±300–400 kg per bulan per SPPG
Potensi pendapatan: hingga Rp4 juta per bulan
Minyak jelantah ini kemudian diserap oleh pengepul untuk diolah kembali menjadi bahan baku biodiesel, sabun industri, hingga lilin ramah lingkungan.
2. Nasi Sisa dari Ompreng
Sisa nasi dari distribusi makanan, yang selama ini dianggap limbah, ternyata memiliki pasar tersendiri.
Harga jual: ±Rp1.000/kg
Volume: 100–150 kg per hari
Potensi nilai ekonomi: jutaan rupiah per bulan
Nasi sisa ini umumnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terutama untuk peternakan unggas dan ikan.
3. Karton Bekas Tempat Telur
Kemasan telur yang digunakan dalam skala besar juga memberi nilai tambah.
Harga jual: ±Rp250 per pcs
Dengan volume operasional SPPG, akumulasi nilai ekonominya cukup signifikan dalam satu bulan.
Dari Dapur ke Kesejahteraan Relawan
Seluruh hasil penjualan dari limbah produktif ini dikumpulkan dan dikelola secara transparan, kemudian dimanfaatkan sebagai tambahan kesejahteraan bagi para relawan SPPG mulai dari petugas dapur, logistik, hingga tenaga pendukung lainnya.
Model ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga membangun rasa memiliki, tanggung jawab, dan keberlanjutan dalam operasional dapur MBG.

Ekonomi Sirkular dalam Praktik Nyata
Konsep ini memperlihatkan bahwa Program MBG bukan sekadar belanja negara untuk pemenuhan gizi, melainkan juga:
Menggerakkan ekonomi lokal
Menciptakan ekosistem usaha mikro
Mengurangi limbah
Menumbuhkan kesadaran lingkungan
Meningkatkan kesejahteraan relawan
Dengan pendekatan ekonomi sirkular, setiap aktivitas dapur memiliki dampak berlapis—sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Model yang Layak Direplikasi Nasional
Praktik baik yang berkembang di dapur-dapur SPPG ini menjadi bukti bahwa pengelolaan program publik dapat dilakukan secara produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Jika direplikasi secara nasional, potensi ekonomi yang dihasilkan bisa mencapai miliaran rupiah per tahun sekaligus memperkuat ekosistem MBG sebagai program strategis bangsa.
“Dari dapur sederhana, kita sedang membangun ekonomi baru yang lebih adil, berdaya, dan berkelanjutan,”
— Drs. H. Marlis, MM, C.Med




