JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul terbentuknya Bibit Siklon 91S di Samudera Hindia barat daya Lampung. Fenomena atmosfer ini memicu meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah Sumatra dalam beberapa hari terakhir.
“BMKG menegaskan potensi 91S untuk berkembang menjadi siklon tropis dan memasuki wilayah daratan seperti halnya Siklon Tropis Senyar, berada dalam kategori rendah,” tulis BMKG dalam pernyataan tertulis, Kamis (11/12).
Meski demikian, publik sempat dibuat cemas karena pembentukan 91S dinilai memiliki kemiripan awal dengan Siklon Senyar yang menyebabkan cuaca ekstrem pada akhir November lalu. BMKG memastikan 91S justru bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

“BMKG memprakirakan 91S akan bergerak ke selatan–barat daya mulai 11 Desember dan menjauhi Indonesia pada 12 Desember,” tulis BMKG.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa dinamika atmosfer aktif saat ini turut meningkatkan intensitas hujan di Sumatra. Bibit Siklon 91S diperkirakan memicu hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.
“Masyarakat juga harus waspada adanya potensi peningkatan tinggi gelombang di Samudera Hindia mulai dari sebelah barat Nias hingga selatan Banten, serta di perairan Selat Sunda bagian selatan,” ujarnya.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan peringatan khusus bagi masyarakat di pesisir barat–selatan Sumatra hingga Banten, terutama terkait hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
“Pemerintah daerah melalui BPBD harus memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan gangguan cuaca lainnya. Kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci untuk menyelaraskan early warning dan early action,” kata Andri.
Bibit Siklon Tropis 91S terpantau sejak 7 Desember 2025 melalui TCWC Jakarta. Pada Rabu (10/12) pukul 07.00 WIB, pusat sirkulasinya berada di 4.9°LS 96.1°BT, masih dalam area pemantauan Indonesia. Kecepatan angin maksimum tercatat 20 knot (37 km/jam) dengan tekanan minimum 1008 hPa.
Citra satelit menunjukkan awan konvektif cenderung meningkat, namun belum terorganisasi sempurna menjadi sistem siklon tropis. “Konveksi masih fluktuatif dan belum sepenuhnya terorganisasi,” tulis BMKG dalam analisanya.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa 91S diprakirakan bergerak mendekati daratan Sumatra dalam 24 jam, tetapi kemudian akan berbelok ke barat daya dan menjauhi Indonesia pada 12 Desember.
“BMKG Pusat bersama BMKG Provinsi telah melakukan koordinasi dengan BNPB dan BPBD untuk memastikan langkah mitigasi berjalan optimal,” ujar Guswanto.
BMKG menyebut aktivitas 91S didukung oleh gelombang Equatorial Rossby, suhu muka laut hangat 29–30°C, divergensi lapisan atas, serta kelembapan udara tinggi. Kendati demikian, vortisitasnya belum cukup kuat untuk membentuk siklon tropis.
Selain itu, aspek klimatologis menunjukkan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi (200–500 mm/bulan) pada Desember di beberapa wilayah seperti Tapanuli, Nias, Langkat, hingga Mandailing Natal.
BMKG menegaskan komitmennya memperbarui informasi resmi terkait perkembangan 91S secara berkala.
“Mohon tetap tenang, waspada, dan menjaga kesiapsiagaan. Potensi bibit siklon ini tumbuh menjadi siklon tropis ke daratan berada dalam kategori rendah,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
BMKG mengimbau masyarakat, pelaku pelayaran, dan pemerintah daerah untuk hanya merujuk pada informasi cuaca dari kanal resmi BMKG agar menghindari disinformasi.
Informasi cuaca harian, peringatan gelombang tinggi, hingga prakiraan cuaca sepekan akan terus diperbarui melalui kanal digital dan layanan resmi BMKG. (*/Rel)




