JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Polemik harga keekonomian gas elpiji 3 kilogram (kg) atau LPG tabung melon mencuat setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan data harga asli gas subsidi tersebut. Menurut hitungan Kemenkeu, harga LPG 3 kg mencapai Rp42.750 per tabung. Namun berkat subsidi sekitar Rp30 ribu per tabung, masyarakat hanya perlu membayar Rp12.750.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Senayan, Selasa (30/9/2025).
“Selama ini pemerintah menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayar masyarakat melalui pemberian subsidi dan kompensasi, baik energi maupun nonenergi,” kata Purbaya kala itu.

Tak hanya LPG 3 kg, ia juga menyebutkan subsidi besar lain untuk BBM, listrik, minyak tanah hingga pupuk. Data Kemenkeu menunjukkan subsidi LPG 3 kg menghabiskan anggaran Rp80,2 triliun di APBN 2024 dan dinikmati oleh 41,5 juta pelanggan.
Bahlil: Menkeu Salah Baca Data
Pernyataan Purbaya langsung ditanggapi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Menurutnya, angka yang disampaikan Menkeu tidak tepat.
“Itu mungkin Menkeu-nya salah baca data itu. Biasalah kalau, ya mungkin butuh penyesuaian,” ujar Bahlil di Gedung BPH Migas, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Ia menilai kemungkinan Purbaya belum mendapat masukan lengkap dari para bawahannya.
“Mungkin Menkeu-nya belum dikasih masukan oleh Dirjennya dengan baik atau oleh timnya,” lanjutnya.
Bahlil pun menekankan bahwa Kementerian ESDM sedang merancang skema subsidi LPG agar lebih tepat sasaran. Salah satunya dengan menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang tengah disusun Badan Pusat Statistik (BPS) bersama ESDM.
“Jadi menyangkut juga subsidi tentang satu data itu masih dalam proses pematangan ya. BPS itu kan kerja sama dengan tim di ESDM. Jadi mungkin Pak Menterinya, Menteri Keuangan ya, mungkin belum baca data kali itu ya,” tegas Bahlil.
Ia juga membantah selisih harga yang terlalu lebar antara harga keekonomian dan harga masyarakat seperti yang dipaparkan Purbaya. Menurutnya, harga di lapangan justru lebih tinggi dari HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp18 ribu per tabung. “Yang beredar di lapangan harga LPG 3kg sangat tinggi, sekitar Rp20 ribu hingga Rp23 ribu per tabung,” kata Bahlil.
Purbaya: Bisa Jadi Cara Lihat Datanya Beda
Tak tinggal diam, Purbaya pun merespons tudingan Bahlil. Saat kunjungan kerja ke Kudus, Jawa Tengah, Jumat (3/10/2025), ia mengaku akan mempelajari ulang data LPG 3 kg yang dipakai Kemenkeu.
“Saya sedang pelajari, kita pelajari lagi. Mungkin Pak Bahlil betul, tapi nanti kita lihat lagi seperti apa. Yang jelas saya dapat angkanya dari hitungan staf saya, nanti kita lihat gimana salah pengertiannya,” kata Purbaya.
Menurutnya, bisa jadi perbedaan terjadi hanya karena cara melihat data antara dua kementerian yang berbeda.
“Saya salah data? Mungkin cara lihat datanya beda, kan hitung-hitungan kan kadang-kadang kalau dari praktik sama akuntan kan kadang-kadang beda,” tambahnya.
Namun, ia optimistis bahwa besarannya pada akhirnya sama.
“Harusnya sih pada akhirnya angkanya sama, uangnya itu-itu aja kan. Nanti kita jelasin seperti apa yang betul,” ucapnya.
Bahkan, Purbaya sempat melontarkan seloroh:
“Kalau salah hitung bisa nambah duit, saya salah hitung terus biar uang nambah. Tapi harusnya sama pada akhirnya,” katanya sambil tersenyum.
Publik Jadi Korban Kebingungan
Saling bantah antara dua menteri ini membuat publik bertanya-tanya, berapa sebenarnya harga keekonomian LPG 3 kg dan berapa tepatnya subsidi yang diberikan pemerintah. Pasalnya, di lapangan harga tabung melon tetap jauh dari HET, menembus Rp20–23 ribu per tabung, jauh lebih tinggi dari angka Rp12.750 yang dipaparkan Menkeu.
Sementara itu, pemerintah sedang menyiapkan sistem data terpadu agar subsidi energi, termasuk LPG 3 kg, bisa lebih tepat sasaran. Namun, sebelum sistem itu matang, masyarakat masih harus menghadapi polemik angka yang berbeda dari dua kementerian utama di sektor energi dan fiskal. (*/REL)



