AS Akui Belum Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz di Tengah Memanasnya Perang Iran

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemerintah Amerika Serikat mengakui belum siap mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, di tengah meningkatnya konflik militer dengan Iran. Padahal sebelumnya Washington sempat menawarkan pengawalan militer bagi kapal tanker untuk meredakan kekhawatiran pasar energi global.

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan rencana pengawalan tersebut memang masih dipersiapkan, namun belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat karena fokus militer AS saat ini berada pada operasi terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Wright dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (12/3/2026).

Iklan

“Itu akan terjadi relatif segera, tetapi tidak bisa terjadi sekarang. Kami memang belum siap,” kata Wright.

Ia menjelaskan bahwa seluruh kemampuan militer Amerika Serikat saat ini diarahkan untuk melemahkan kekuatan ofensif Iran.

“Semua aset militer kami saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang memasok kemampuan ofensif mereka,” ujarnya.

Meski demikian, Wright memperkirakan pengawalan kapal tanker oleh militer AS kemungkinan dapat mulai dilakukan sebelum akhir bulan.

Serangan Kapal Tanker Picu Lonjakan Harga Minyak

Pengakuan tersebut muncul setelah dua kapal tanker minyak diserang di lepas pantai Irak. Insiden itu menewaskan sedikitnya satu orang dan memicu lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui 100 dolar AS per barel.

Sejak konflik dengan Iran memanas, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berupaya menenangkan pasar energi global. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah pengawalan oleh Angkatan Laut AS bagi kapal tanker yang melintas di jalur strategis tersebut, disertai fasilitas reasuransi bagi perusahaan pelayaran.

BACA JUGA  Trump Klaim Iran Diam-Diam Ingin Damai, Teheran Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi

Namun hingga kini, rencana pengawalan tersebut belum terealisasi.

Sebelumnya pada Selasa, Wright sempat memicu gejolak pasar minyak setelah menyatakan melalui media sosial bahwa kapal militer Amerika telah melakukan pengawalan. Unggahan itu kemudian dihapus, dan Gedung Putih membantah bahwa operasi tersebut pernah dilakukan.

Situasi di kawasan Teluk semakin memanas setelah Iran meluncurkan gelombang baru serangan terhadap target energi di negara-negara Teluk. Konflik yang juga melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk infrastruktur energi, memperparah gangguan pasokan minyak dunia.

Menurut International Energy Agency, perang tersebut telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Lonjakan harga energi yang terjadi bahkan mulai menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump di dalam negeri.

Trump: Prioritas Utama Hentikan Iran

Menanggapi kenaikan harga energi, Trump menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan pemerintahannya bukan semata stabilitas harga minyak, melainkan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap berada dalam posisi kuat karena merupakan produsen minyak terbesar di dunia.

“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas yang lain, jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang. Namun, yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya sebagai Presiden adalah menghentikan sebuah Kekaisaran jahat, Iran, dari memiliki senjata nuklir, dan menghancurkan Timur Tengah dan bahkan dunia,” tulis Trump.

BACA JUGA  Trump Klaim Iran Diam-Diam Ingin Damai, Teheran Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi

Untuk menekan gejolak pasar energi, negara-negara anggota International Energy Agency pada Rabu sepakat melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka. Langkah tersebut menjadi pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah.

Amerika Serikat sendiri akan melepaskan 172 juta barel minyak melalui skema pertukaran.

Menurut Wright, mekanisme tersebut memungkinkan sekitar 200 juta barel minyak kembali mengisi cadangan strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve dalam waktu satu tahun.

Namun langkah itu belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar, terutama karena jalur distribusi energi melalui Strait of Hormuz kini praktis terganggu. Selat ini selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.

Minyak Rusia Jadi Solusi Sementara

Di tengah tekanan pasokan global, Washington juga melonggarkan sebagian pembatasan terhadap minyak Rusia yang berada di laut. Amerika Serikat memberikan pengecualian sementara kepada India untuk membeli minyak tersebut guna membantu menstabilkan pasokan energi.

Meski begitu, Wright menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berarti pelonggaran sanksi terhadap Rusia.

“Rusia tidak mendapatkan keringanan sanksi. Semua minyak itu adalah minyak yang sudah berada di laut dan sedang menunggu giliran untuk dibongkar di China,” kata Wright.

Ia menyebut pengecualian itu sebagai langkah pragmatis untuk menghadapi krisis energi saat ini.

Pernyataan Wright juga muncul sehari setelah utusan Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertemu dengan negosiator Amerika Serikat di Florida. Pertemuan tersebut menjadi kontak langsung pertama antara Washington dan Moskwa sejak konflik Iran memanas.

BACA JUGA  Trump Klaim Iran Diam-Diam Ingin Damai, Teheran Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi

Utusan Rusia, Kirill Dmitriev, menyebut pembicaraan itu berlangsung positif.

Ia mengatakan pertemuan tersebut “produktif” dan menilai Washington mulai memahami pentingnya minyak Rusia dalam menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah krisis yang sedang berlangsung.

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses