DHARMASRAYA, ALINIANEWS.COM – Sebuah langkah visioner tengah tumbuh di Nagari Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya. Melalui pengembangan Alinia Food Estate, Alinia Group mulai membangun kebun Pisang Barangan Merah seluas 4 hektare sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan pangan bergizi untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menjadi proyek pertanian semata, tetapi juga dapat menjadi model gerakan ekonomi rakyat yang mendorong masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk budidaya pisang secara produktif.

Pertumbuhan Sangat Menggembirakan
Perkembangan kebun pisang tersebut menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Pada usia tanam 2 bulan 10 hari, tanaman Pisang Barangan Merah di lahan Alinia Food Estate telah memperlihatkan pertumbuhan yang sangat baik, dengan tinggi rata-rata pohon mencapai sekitar 1 meter. Dengan kondisi tanah yang subur serta pengelolaan budidaya yang terencana, tanaman diperkirakan akan mulai menghasilkan buah dalam masa tanam sekitar 9 bulan. Pisang yang dihasilkan diharapkan memiliki kualitas yang baik, segar, dan bergizi tinggi untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan Program MBG di berbagai daerah menghadapi tantangan dalam memperoleh pasokan pisang berkualitas baik dalam jumlah yang memadai. Padahal pisang merupakan salah satu komponen penting dalam menu MBG karena kaya akan:
energi alami, kalium dan vitamin, serat yang baik untuk pencernaan, nutrisi penting bagi pertumbuhan anak. Melihat kondisi tersebut, Alinia Group mengambil langkah strategis dengan membangun sumber produksi sendiri melalui konsep Alinia Food Estate, sehingga pasokan buah dapat lebih terjamin dari sisi kualitas maupun kontinuitasnya.
Harapan Menjadi Gerakan Daerah
Pendiri Alinia Group, Drs. H. Marlis, MM, C.Med, menyampaikan bahwa pengembangan kebun pisang ini diharapkan dapat menjadi pemicu gerakan baru di Dharmasraya. Menurutnya, masih banyak lahan kosong di masyarakat yang sebenarnya sangat potensial untuk ditanami tanaman produktif seperti pisang.
“Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan kosong dengan menanam pisang. Selain relatif mudah dibudidayakan, pisang juga memiliki pasar yang jelas, terutama untuk kebutuhan Program MBG,” ujar Marlis.
Jika gerakan ini berkembang secara luas, maka Dharmasraya berpotensi menjadi sentra produksi pisang berkualitas yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dapat memasok berbagai daerah lainnya.
Konsep Alinia Food Estate sendiri dirancang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem pangan yang terintegrasi dengan program MBG. Melalui pendekatan ini, kebutuhan dapur MBG diharapkan dapat dipenuhi dari produksi lokal petani, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Selain meningkatkan ketersediaan pangan bergizi, model ini juga membuka peluang baru bagi:
Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia, langkah yang dimulai dari kebun pisang di Gunung Medan ini menjadi pesan penting bahwa ketahanan pangan dan gizi bangsa dapat dimulai dari gerakan sederhana: memanfaatkan lahan kosong menjadi sumber pangan produktif. Jika gerakan ini berkembang luas, bukan tidak mungkin Dharmasraya akan dikenal sebagai salah satu sentra produksi pisang yang berkontribusi langsung bagi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia.(*/ Redaksi )




