JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Asisten Profesor Kesehatan Masyarakat, Ilham Akhsanu Ridlo, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan peringkat perguruan tinggi sebagai satu-satunya acuan dalam memilih kampus. Menurutnya, lembaga pemeringkatan internasional seperti Times Higher Education (THE) tidak sepenuhnya bisa dijadikan tolok ukur mutu pendidikan.
Pernyataan itu disampaikan Ilham menanggapi polemik pemeringkatan THE yang belakangan ramai diperbincangkan, setelah menempatkan Universitas Negeri Padang (UNP) berada di atas Universitas Indonesia (UI) untuk bidang Kedokteran dan Kesehatan.
“Ranking THE banyak dimanipulasi,” ujar Ilham, dikutip dari Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, THE pada dasarnya merupakan lembaga komersial. Dalam proses penyusunan peringkat, lembaga tersebut tidak melakukan penilaian langsung terhadap kondisi riil kampus.
“THE itu industri. Mereka tidak datang melihat langsung bagaimana kualitas kampus di lapangan,” tegasnya.
Lebih jauh, Ilham memaparkan bahwa metodologi pemeringkatan THE bertumpu pada data kuantitatif, seperti jumlah publikasi ilmiah, sitasi, kolaborasi internasional, lingkungan riset, serta reputasi akademik. Bobot penilaian pun berbeda untuk setiap bidang keilmuan.
“Karena itu, peringkat bisa berubah sangat cepat jika ada lonjakan publikasi, kolaborasi, atau sitasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti fakta bahwa data yang digunakan THE berasal dari input mandiri perguruan tinggi dan bersifat berbayar. Artinya, kampus yang ingin masuk dalam daftar pemeringkatan harus mengirimkan data sendiri sekaligus membayar biaya tertentu kepada pihak penyelenggara.
“Kalau tidak menginput data, ya tidak akan muncul. Ini penting dipahami publik,” katanya.
Bagi masyarakat awam, Ilham menilai kualitas perguruan tinggi justru lebih tepat diukur melalui indikator nyata, seperti fasilitas pendidikan, kapasitas dan kompetensi dosen, serta akreditasi institusi dan program studi.
“Pembacaan yang lebih tepat adalah memadukannya dengan indikator lain seperti akreditasi program, rekam jejak lulusan, dan integritas riset,” paparnya.
Meski akreditasi kampus juga kerap disorot rawan manipulasi, Ilham menegaskan bahwa proses tersebut setidaknya dilakukan secara ketat oleh lembaga resmi negara. Untuk tingkat institusi dilakukan oleh BAN-PT, sementara program studi dinilai oleh LAM.
“Penilaian akreditasi juga melibatkan visitasi langsung ke lapangan,” ujar doktoral kandidat di LMU Munich, Jerman itu.
Ia juga mengingatkan publik agar tidak mudah terpancing klaim “menyalip” peringkat kampus lain. Pasalnya, dalam banyak kasus, THE hanya menampilkan peringkat dalam bentuk rentang atau band score, bukan angka pasti.
“Jadi, kalau dua universitas berada di band yang sama, tidak bisa serta-merta diklaim siapa yang lebih unggul. Klaim seperti itu harus dibaca dengan sangat hati-hati,” pungkasnya. (*/Rel)




