Ikhsan Fausta Alinia (Wakil Ketua DPD KNPI Sumatera Barat)
Jika politik adalah seni kemungkinan, maka di tangan orang-orang yang benar, politik bisa menjadi seni pengabdian. Itulah yang saya rasakan saat menyaksikan langsung geliat perubahan yang sedang berlangsung di kampung saya, Sumatera Barat, khususnya di kawasan Rawang Mato Aia, Padang Selatan. Kawasan yang selama lebih dari empat dekade tak pernah absen dari bencana banjir, kini mulai menatap harapan baru. Dan semua itu bukan terjadi karena keajaiban, tetapi hasil dari kolaborasi dua pemimpin kuat dan visioner: Andre Rosiade dan Fadly Amran.
Nama Andre Rosiade bukanlah hal baru dalam kancah politik Sumbar dan nasional. Ia adalah sosok yang bukan hanya vokal, melainkan juga sangat strategis. Sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre telah membuktikan bahwa politik tidak selalu harus identik dengan janji-janji kosong. “Kalau Apak ambo jadi presiden, ambo bisa garansi triliunan rupiah pitih masuak ke Sumatera Barat,” begitu sempat dulu dikatakannya. Banyak yang mencibir, menyangka itu sekadar bualan politisi menjelang Pemilu. Tapi kenyataan berkata lain.

Pada 17 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani dua kebijakan monumental: Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) dan Instruksi Presiden Infrastruktur Daerah (IID). Siapa yang berjasa memperjuangkannya untuk Sumatera Barat? Jawabannya jelas: Andre Rosiade. Dengan kekuatan jejaring politik nasionalnya, Andre membuktikan bahwa akses ke pusat kekuasaan bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk membuka pintu perubahan nyata.
Namun, kekuatan pusat saja tidak cukup. Butuh sosok di daerah yang bisa mengeksekusi peluang itu dengan cepat dan cerdas. Di sinilah Fadly Amran, Wali Kota Padang, menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Tidak seperti kepala daerah yang lebih sibuk menjaga citra di media sosial, Fadly justru memilih terjun langsung ke lapangan. Ketika Andre mengajak Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Doddy Hanggodo, berkunjung ke Jondul Rawang malam-malam, Fadly menyambut dengan penuh hormat dan kesiapan. Ini bukan kunjungan seremonial. Ini adalah bentuk kehadiran negara di tempat yang selama ini terasa terpinggirkan.
Sungguh, peristiwa ini adalah cerminan nyata dari apa yang dikatakan oleh ilmuwan politik Harold Lasswell, bahwa “politics is who gets what, when, and how.” Andre dan Fadly tahu persis apa yang dibutuhkan rakyat (pengentasan banjir), kapan momentum politiknya (pascapilpres dengan Prabowo sebagai presiden), dan bagaimana strategi untuk mengeksekusinya (melalui Inpres dan pengawalan anggaran pusat).
Tak hanya itu, kolaborasi ini juga menjadi contoh konkret dari konsep “good governance” yang disebut oleh Fukuyama dalam Political Order and Political Decay, yaitu ketika institusi bekerja bukan untuk kekuasaan semata, tapi untuk resolusi masalah publik secara nyata. Kita tidak sedang membicarakan grand design utopis yang entah kapan terjadi, tetapi hasil kerja dua tokoh yang benar-benar turun tangan, bukan sekadar tunjuk tangan.
Fadly sendiri secara terbuka menyatakan rasa terima kasihnya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena menurutnya, penanganan banjir Rawang memang tidak bisa dilakukan hanya dengan APBD Kota. Ia sadar, bahwa tak ada ruang bagi ego sektoral jika ingin menghadirkan solusi.
Dan memang benar, banjir Rawang bukan hanya soal genangan air. Ia adalah simbol dari kerapuhan tata kota, kelambanan birokrasi, dan ketidakpedulian politik yang selama ini terjadi. Tapi hari ini, kita menyaksikan bahwa itu bisa diakhiri. Andre Rosiade datang dengan kekuatan parlemen dan koneksi ke eksekutif pusat. Fadly Amran hadir dengan ketajaman eksekusi dan kepekaan terhadap denyut nadi masyarakat. Keduanya bertemu, lalu bekerja. Hasilnya? Sebuah harapan yang nyata.
Saya sebagai bagian dari anak muda Sumatera Barat, merasa bangga. Karena akhirnya, kita punya dua pemimpin yang tidak hanya tahu cara bicara, tapi juga tahu cara bekerja. Ini bukan pujian kosong. Ini adalah bentuk apresiasi kepada politik yang benar-benar menyentuh rakyat. Politik yang, menurut filsuf Prancis Pierre Rosanvallon, harus menjadi “alat emansipasi dan pelayanan, bukan dominasi dan jarak.”
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi apakah Rawang bisa bebas dari banjir. Tapi kapan itu benar-benar selesai, karena prosesnya sudah dimulai.
Maka kepada yang masih ragu, cobalah sejenak lepaskan kacamata sinis. Lihat apa yang sedang terjadi. Politik sedang bekerja. Kolaborasi sedang bergerak. Dan Sumatera Barat, perlahan tapi pasti, sedang berubah.
Terima kasih Andre Rosiade. Terima kasih Fadly Amran.
Bukan karena kalian sempurna, tapi karena kalian bekerja dengan sungguh-sungguh. Semoga semangat kolaborasi ini menjadi virus kebaikan bagi seluruh penjuru Sumbar, dan menular kepada semua pemimpin yang benar-benar ingin menjemput masa depan, bukan menunggu keajaiban. (*/Rel)




