JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Serangan terbaru Israel di Jalur Gaza kembali menewaskan warga sipil, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa wilayah tersebut kini dilanda kelaparan parah akibat perang dan blokade bantuan. Kondisi ini disebut sebagai tragedi kemanusiaan terbesar yang sepenuhnya bisa dicegah.
Menurut laporan Arab News, sedikitnya 25 warga Palestina tewas pada Sabtu (23/8/2025) akibat serangan dan tembakan militer Israel. Beberapa korban sedang berlindung di tenda-tenda pengungsian, sementara yang lain tewas saat berusaha mencari bantuan makanan.

Serangan udara di Khan Younis, Gaza selatan, menghantam area tenda pengungsi dan menewaskan setidaknya 14 orang. Lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.
“Seluruh Jalur Gaza sedang dibombardir… Di selatan. Di utara. Di mana-mana,” kata Awad Abu Agala, paman dari dua anak yang tewas, dikutip dari Arab News. Ia menyebut, anak-anak itu diserang ketika berada di dalam tenda mereka pada malam hari.
Selain itu, di Gaza utara, lima orang dilaporkan tewas saat mencoba mencari bantuan makanan di dekat perbatasan Zikim. Laporan rumah sakit dan Bulan Sabit Merah Palestina menyebut enam orang lainnya juga tewas di lokasi berbeda. Hingga kini, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait deretan korban jiwa tersebut.
Laporan organisasi Integrated Food Security Phase Classification (IPC) pada Jumat lalu menyebut Gaza mengalami kelaparan tingkat tertinggi atau fase katastropik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wilayah Timur Tengah dilaporkan mengalami kelaparan semacam ini.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut kondisi di Gaza sebagai “bencana buatan manusia” sekaligus kegagalan moral kemanusiaan.
“Kelaparan bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena sistem-sistem penting untuk bertahan hidup sengaja dihancurkan,” tegas Guterres, dikutip dari laman resmi PBB.
Menurut IPC, lebih dari 640.000 warga Gaza diperkirakan akan menghadapi kelaparan ekstrem hingga akhir September, sementara 1,14 juta orang lainnya berada dalam kondisi kekurangan pangan berat. Ratusan ribu orang bahkan nyaris tidak bisa makan sama sekali.
Koordinator Bantuan Darurat PBB, Tom Fletcher, menegaskan tragedi kelaparan ini seharusnya bisa dihindari.
“Makanan menumpuk di perbatasan hanya beberapa ratus meter dari orang-orang yang kelaparan,” ujarnya.
Data PBB menunjukkan, kasus malnutrisi akut pada anak-anak meningkat drastis. Lebih dari 12.000 anak di Gaza menderita kekurangan gizi parah pada Juli lalu, meningkat enam kali lipat dibandingkan awal tahun 2025.
Pemerintah Israel menolak laporan IPC dan menyebutnya sebagai “kebohongan secara terang-terangan.” Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuding kelompok Hamas sebagai pihak yang membuat rakyat Gaza kelaparan demi kepentingan politik.
Israel mengklaim telah mengizinkan masuknya bantuan melalui jalur darat maupun udara. Namun, PBB dan lembaga kemanusiaan internasional menegaskan jumlah bantuan yang masuk sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan 2 juta penduduk Gaza.
Hingga kini, upaya menuju gencatan senjata masih buntu. Hamas menyatakan siap membebaskan sandera jika Israel menghentikan perang, tetapi menolak menyerahkan senjata tanpa jaminan pembentukan negara Palestina. Netanyahu mengaku telah memerintahkan negosiasi pembebasan sandera, namun belum jelas apakah Israel akan kembali ke meja perundingan bersama mediator dari Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Tragedi Gaza juga memantik gelombang protes global. Lebih dari 150 ulama terkemuka dari seluruh dunia berkumpul dalam Konferensi Internasional di Istanbul, Turki, pada 22–29 Agustus 2025.
Dalam pernyataannya, Persatuan Ulama Muslim Internasional (Union of Muslim Scholars/ IUMS) menegaskan bahwa tragedi di Gaza merupakan pembantaian terbesar dalam sejarah umat manusia.
“Hal ini didasari keyakinan teguh bahwa merupakan kewajiban bagi para ulama dan seluruh umat untuk berdiri bersama Gaza dan Palestina, untuk menjunjung tinggi amanah membela perjuangan mereka yang adil, dan untuk mendukung rakyat mereka yang tertindas dengan sekuat tenaga dan tekad yang ada,” tulis pernyataan resmi IUMS, Minggu (24/8/2025).
Konferensi ini diharapkan memperkuat solidaritas dunia Islam sekaligus mendesak komunitas internasional agar segera menghentikan perang dan mengakhiri penderitaan rakyat Gaza.
(*/rel)




