Sebagian bangunan tempat tinggal tampak terendam lumpur akibat tanah longsor besar yang dipicu hujan deras di Negara Bagian Uttarakhand, India, 5 Agustus 2025.
ALINIANEWS.COM — Ketika hujan deras mengguyur China, Pakistan, dan sebagian wilayah India, di tempat lain seperti Jepang dan Korea Selatan justru diterjang gelombang panas yang membara. Kondisi cuaca ekstrem yang saling bertolak belakang ini melanda sejumlah negara Asia dalam beberapa pekan terakhir, menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala besar.
Perubahan iklim disebut-sebut sebagai pemicu utama dari makin intens dan tak terduganya fenomena cuaca ekstrem ini. Seperti dilansir BBC, Kamis (8/8/2025), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Dalam 30 tahun terakhir, kawasan ini telah mengalami kerugian ekonomi mencapai 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 30 kuadriliun akibat bencana seperti banjir, gelombang panas, dan kekeringan, menurut laporan tahunan Indeks Risiko Iklim.

Jepang menjadi salah satu negara yang paling terdampak gelombang panas. Pada Selasa (5/8/2025), suhu di Kota Isesaki, Prefektur Gunma, mencapai 41,8 derajat celsius—rekor tertinggi yang pernah terjadi di negara tersebut. Tak hanya itu, bulan Juni dan Juli 2025 juga tercatat sebagai periode terpanas sepanjang sejarah Jepang. Kantor pemeriksa medis Tokyo menyebutkan bahwa sebanyak 56 orang meninggal akibat sengatan panas dari pertengahan Juni hingga akhir Juli. Suhu ekstrem ini juga merusak infrastruktur, termasuk rel kereta api yang dilaporkan melengkung akibat panas berlebihan. Meski begitu, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa kondisi panas ini diperkirakan akan sedikit mereda dalam beberapa hari ke depan. Beberapa wilayah di Jepang juga diprediksi akan menerima hujan hingga 200 milimeter disertai udara yang lebih sejuk.
Sementara itu, Korea Selatan mencatat 22 malam tropis pada Juli, dengan suhu malam hari yang tidak turun di bawah 25 derajat Celsius. Pihak layanan darurat menerima lonjakan laporan kejadian akibat cuaca panas. Pemerintah setempat bahkan melonggarkan aturan berpakaian di berbagai tempat kerja guna menjaga kenyamanan dan mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan. Panas ekstrem juga melanda Vietnam, dengan Ibu Kota Hanoi mencatat suhu di atas 40 derajat celsius pada awal Agustus.
Berbeda dengan negara-negara Asia Timur yang dilanda panas, China justru berjibaku dengan banjir besar yang melanda wilayah luas dari Shanghai hingga Beijing. Banjir yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan banyak korban jiwa. Di wilayah selatan, hujan deras memicu kekhawatiran akan tanah longsor susulan. Pada Rabu (6/8/2025), petugas darurat dikerahkan untuk membersihkan puing-puing sekaligus mempersiapkan wilayah terdampak menghadapi curah hujan lanjutan. Di Guangzhou, ratusan penerbangan dibatalkan atau ditunda, sementara genangan air turut memicu kekhawatiran penyebaran virus chikungunya yang dibawa oleh nyamuk.
Aktivitas badai tropis yang meningkat disebut sebagai pemicu hujan deras di wilayah tersebut. Pekan lalu, tercatat ada tiga badai tropis aktif di wilayah Pasifik barat—angka yang mencolok mengingat sebelum Juni hampir tidak ada badai yang terpantau. Wilayah pegunungan di Beijing juga terdampak parah. Banjir bandang yang terjadi pada akhir Juli menewaskan puluhan orang, termasuk 31 penghuni panti jompo. Banjir semacam ini sering kali datang tiba-tiba dan mematikan, terutama di area padat penduduk atau rawan longsor.
India dan Pakistan juga mengalami bencana serupa. Banjir bandang menerjang India bagian utara setelah hujan deras yang ekstrem. Di Negara Bagian Uttarakhand, lebih dari 100 orang dinyatakan hilang akibat banjir yang menyapu wilayah pegunungan. Di Pakistan, lebih dari 300 orang, termasuk lebih dari 100 anak-anak, dilaporkan tewas dalam insiden yang terkait dengan hujan sejak Juni lalu. Banjir juga menghancurkan ratusan rumah dan bangunan. Save the Children, lembaga bantuan asal Inggris, menyebutkan bahwa sedikitnya seperempat sekolah di Provinsi Punjab mengalami kerusakan, baik sebagian maupun total.
Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi serempak namun berlawanan arah ini menggambarkan bagaimana krisis iklim global telah menjelma menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Bencana yang sebelumnya dianggap sebagai kejadian luar biasa kini menjadi pola baru yang harus dihadapi, dengan dampak yang nyata terhadap kehidupan jutaan manusia di seluruh Asia.
(*/rel)



