spot_img
spot_img

Aporia Satiris “Robohnya Surau Kami” A. A. Navis

Oleh Narudin Pituin

I.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” (1955, cetakan ke-16, 2010) [1] disebut sebagai cerpen monumental oleh sementara orang karena satirismenya yang menggugah hati sementara pembaca.

Jika diperiksa lebih saksama, cerpen ini bermode presentasi “menceritakan” (telling), bukan menunjukkan (showing) seperti cerpen-cerpen Ernest Hemingway, Anton Chekhov, dan Guy de Maupassant tempo dulu. Dalam gaya bercerita inilah cerpen ini tidak sukar untuk dituruti jalan kisahnya atau alurnya—kendatipun cerpen ini memanfaatkan jenis cerita yang berlapis atau berbingkai (ada kisah dalam kisah), menggunakan sorot balik (flashback) (Klarer, 1998), yakni dengan tanda awal kematian tokoh Kakek, si penjaga surau itu.

Iklan

Struktur plot atau alur cerpen ini sebagai berikut perkembangan kerangka awalnya, dimulai dari:

Exposition (pemaparan awal kisah) — complication (komplikasi kisah) — climax (klimaks kisah) — resolution (resolusi kisah).

Kemudian denouement (penutup kisah) disimpan di awal cerita sehingga stuktur plot atau alurnya akan tampak lebih terang sebagai berikut sesungguhnya:

Denouement (kematian Kakek) — exposition (pemaparan siapa Kakek) — complication (masalah bualan Ajo Sidi) — climax (bunuh diri Kakek) — resolution (kerja bagi Ajo Sidi sebagai alasan imanen yang ditekankan).

Alhasil, dengan denouement di awal cerpen, kisahnya menjadi lebih menarik dan memantik minat pembaca lebih kuat—yakni kematian tokoh Kakek yang “satiris” (sesungguhnya lebih tepat diutarakan sebagai “fatalistis” karena bukanlah ejekan semata, melainkan pulalah suatu kelemahan tokoh yang berwatak datar itu, mengikuti kehendak cerpenis A.A. Navis).

Tokoh-tokoh di dalam cerpen ini sebenarnya berwatak datar (flat character), bukan berwatak bulat (round character) yang lebih berfitur kompleks dan berkecenderungan berbeda serta individual sifatnya, idiosinkratis. Tokoh-tokoh berwatak datar itu, misalnya, aku, Kakek, dan Ajo Sidi. Watak tokoh Kakek pun datar karena A.A. Navis terlalu memaksakan diri membuat perubahan watak Kakek yang bunuh diri secara tak logis, baik secara kausal maupun secara temporal.

Sudut pandang cerpen ini cukup lengkap, misalnya, tokoh “aku” sebagai perspektif naratif orang pertama (first person). Kemudian tokoh “Kakek” sebagai perspektif naratif figural (figural narrative) dan tokoh “Ajo Sidi” sebagai narator eksternal yang mengacu kepada antagonis orang ketiga (third person) yang dapat merepresentasikan cogito [2] A.A. Navis.

Latar tempat dan latar waktu cerpen ini merupakan latar “indeks anaforis” dalam Semiotika Aart van Zoest (1991), [3] yakni deskripsi latar yang mendukung isi cerita yang ada di dalamnya, misalnya, “beberapa tahun lalu” (latar waktu), “kota kelahiranku” (latar tempat), “jalan kampungku” (latar tempat), dan “sebuah surau tua” (latar tempat).

Adapun tema cerpen ini sesungguhnya tema yang kerap kali dijumpai dalam obrolan atau kehidupan di kampung-kampung tentang seorang pembual, di sini tokohnya Ajo Sidi, yang membual tentang realitas eskatologis, kehidupan alam akhirat, alam setelah kematian secara gegabah—aleatoris atributnya tidak bersandar kepada penghayatan religius dan akal sehat sedemikian rupa sehingga berdampak fatal secara satiris pada kematian tokoh Kakek, si penjaga surau tua itu.
IMG 20250512 091023
II.
Dari seluruh anasir intrinsik cerpen di atas, cerpen yang disebut oleh Mario Klarer (1998) sebagai a concise form of prose fiction (sebuah bentuk fiksi prosais yang ringkas), yang tak kalah menarik untuk dikaji ialah masalah aporia [4] satiris A.A. Navis dalam cerpennya ini, “Robohnya Surau Kami”, sebab cerpen inilah cerpen A.A. Navis yang paling kontradiktif secara dekonstruksionis. [5]

Aporia-aporia satiris (lebih tepatnya fatalistis) dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” A.A. Navis sebagai berikut. Ini merupakan bukti-bukti tekstual dalam cerpen ini yang berkualitas kontradiktoris secara dekonstruksionis.

Aporia pertama, aporia satiris bunuh diri Kakek. Perhatikan kutipan 1 dan kutipan 2 di bawah ini.

“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”
(KUTIPAN 1, HALAMAN 4)

“Kakek?”
“Ya. Tadi Subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”
“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.
(KUTIPAN 2, HALAMAN 13)

Ucapan Kakek “Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya…. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.” merupakan ucapan keyakinan yang teguh dan kontradiktif dengan ucapan istriku “Ya. Tadi Subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

Aporia kedua, aporia satiris cogito A.A. Navis versus cogito Ajo Sidi. Simak kutipan 1 dan kutipan 2 sebagai berikut.

“Ini sungguh tidak adil.”
“Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
“Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.”
“Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.”
“Benar. Benar. Benar.” Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
(KUTIPAN 1, HALAMAN 9)

“Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.”
(KUTIPAN 2, HALAMAN 11-12)

Ucapan penghuni neraka, Haji Saleh—yang notabene adalah alter ego cogito Ajo Sidi—yaitu “Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.” mengisyaratkan Tuhan memiliki kelemahan antropomorfis layaknya manusia. Hal demikian tentu saja satirisme transendental, kemustahilan teologis.

Cogito A.A. Navis pun dipertentangkan dengan ucapan Tuhan lewat cogito mulut Ajo Sidi, “Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.” Di sini terdapat kontradiksi, Tuhan memang patut disembah dan perihal amal atau perbuatan manusia lainnya bergantung kepada kehendak pribadi manusia. Menurut Muhammad Abduh, filsuf Mesir, manusia patut dimasukkan ke neraka atau ke surga karena manusia memiliki kehendak bebas atau akal, yang pada galibnya disebut secara filosofis dengan istilah al-insanu hayawanun natiq (manusia itu binatang yang berpikir). Di sini pulalah Tuhan tampak emosional layaknya manusia yang berwatak mendesak dalam cogito mulut Ajo Sidi.

Ada pula cogito satiris A.A. Navis versus cogito Ajo Sidi (alter egonya Haji Saleh). Cermatilah 3 kutipan berikut ini. Kutipan 1 dan kutipan 2 ialah cogito A.A. Navis sebagai juru kisah cerpen yang bertentangan dengan cogito Haji Saleh dalam kutipan 3.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
“Engkau?”
“Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.”
(KUTIPAN 1, HALAMAN 6)

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia ini terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula.
(KUTIPAN 2, HALAMAN 8)

“Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.”
“Engkau rela tetap melarat, bukan?”
“Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.”
(KUTIPAN 3, HALAMAN 11)

Gelar “haji” untuk “Haji Saleh” menandakan bahwa Saleh orang yang kaya (tidak melarat) karena pernah naik haji ke Mekah. Bahkan ada penghuni neraka yang telah 14 kali ke Mekah dan bergelar “syekh” pula. Ia tentu saja orang yang sangat berkecukupan atau kaya (tidak melarat).

Akan tetapi, dalam kutipan 3, Tuhan dalam cogito Haji Saleh (alter egonya Ajo Sidi atau sebaliknya) menuduh para penghuni neraka itu melulu ibadat hingga menjadi orang yang melarat (tidak kaya). Sampai derajat pembicaraan ini, sungguh ini suatu kontradiksi atau aporia yang jelas.

Apabila diuraikan agak lebih terperinci dalam kaidah umum dekonstruksi Derridean, aporia-aporia di atas tak lain ialah suatu oposisi biner, misalnya, dalam mikroteks-mikroteks sebagai berikut:

Tuhan silap X Tuhan tak silap
Manusiawi X Ilahiah
Imanen X transenden
Iman X amal
Keyakinan X Perbuatan
Kaya X Tak Kaya
Kaya X Melarat

Dan sebangsanya, selama tetap menandakan pertentangan-pertentangan atau kebingungan-kebingungan (aporia) pada taraf cogito satiris “yang ego” dan “yang alter egonya” atau antara diri (the self) dan lainnya (the other)—realitas konkret dan realitas abstraknya—atau secara hermeneutik, yang subjek dan roh objektifnya.

Aporia ketiga, aporia satiris yang imanen (kerja) versus yang transenden (ibadat). Bacalah kutipan 1 dan kutipan 2 ini.

Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
“Salahkah menurut pendapatmu kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?” tanya Haji Saleh.
“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang.”
(KUTIPAN 1, HALAMAN 12)

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang ke mana dia?”
“Kerja.”
“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.
“Ya, dia pergi kerja.”
(KUTIPAN 2, HALAMAN 13)

Ucapan malaikat ini “Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang.” merupakan aporia satiris yang transenden, sedangkan ucapan aku “Dan sekarang ke mana dia (Ajo Sidi)?” dan jawaban istri “Kerja.” merupakan aporia satiris yang imanen.

Omar Khayyam, seorang penyair-sufi, disebut mabuk jasmani, sedangkan Jalaluddin Rumi, juga penyair-sufi, disebut mabuk rohani. Persis, Ajo Sidi seorang yang mabuk jasmani atau mabuk materi, benda yang teraba, dapat disentuh, barangkali berupa uang.

Sementara itu, penghuni neraka itu sembahyang karena mabuk rohani, hal yang tak teraba, tak tersentuh. Kontradiksi di sini terjadi seolah-olah kerja lebih utama daripada sembahyang. Padahal, konsep dasar religius di dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” ini berlatar belakang Islam—menuntut keseimbangan (ekuilibrium) antara langit dan bumi, antara yang jauh dan yang dekat, antara iman dan amal saleh.

Dalam ajaran agama Islam, iman dan amal saleh tak dapat dipisahkan karena realitas abstrak iman haruslah dibuktikan dalam realitas konkret amal atau perbuatan. Dalam berbuat inilah manusia yang satu dapat dibedakan dari manusia yang lain karena ada aktivitas jasmani yang tampak dalam penglihatan—sebagai satu-satunya makhluk yang berjasmani dan berohani, yaitu manusia. Jatah waktu hidup manusia sejak lahir hingga mati pun dihitung sebagai akumulasi total dari seluruh amal-amalnya: amal baik dibalas surga, amal buruk dibalas neraka.

Oleh sebab itu, seorang penyair-filsuf, Muhammad Iqbal, berkata, “I act, therefore I am.” (aku beramal, maka aku ada)—bukan lagi “I think, therefore I am.” (aku berpikir, maka aku ada), yaitu prinsip pertama Filsafat René Descartes. Iqbal lebih menekankan pada aspek tindakan daripada aspek pikiran.

Sampai taraf pembicaraan ini, di sinilah letak kompleksitas cerpen A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” yang memberikan tantangan yang banyak kepada pihak pembaca yang tentu saja memiliki cakrawala harapan (horizon of expectation) [6] bawaan yang pelbagai.

III.
Kesimpulan, cerpen karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” merupakan cerpen yang kompleks dari unsur-unsur intrinsiknya hingga anasir-anasir ekstrinsiknya—yang mengakibatkan cerpen ini disebut sebagai cerpen monumental. Kompleksitas cerpen A.A. Navis ini menggugat dimensi bahasa, sastra, budaya atau warna lokal (local color), hingga filsafat, termasuk penghayatan religius.

Meskipun demikian, dengan pembacaan yang lebih sensitif dan kritis, secara dekonstruksionis, cerpen ini memiliki kekurangan tertentu, yaitu dalam hal aporia-aporia satiris (lebih tepatnya fatalistis) seperti telah diuraikan di muka.

Semoga kajian sederhana ini bermanfaat bagi para peneliti khususnya dan bagi para sastrawan dan para pembaca umumnya demi kemajuan sastra di tanah air.

***

Dawpilar, 27 Agustus 2024—12 Mei 2025

CATATAN KAKI

[1] Baca buku cerpen A.A. Navis, Robohnya Surau Kami, cetakan ke-16, Jakarta: Gramedia, 2010, halaman 1-13.

[2] Cogito ergo sum, bahasa Latin, biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris I think, therefore I am, ialah prinsip pertama Filsafat René Descartes. Jadi, cogito (I think) ialah pikiran atau benak seseorang.

[3] Lihat Aart van Zoest, Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik (terjemahan dari Waar gebeurd en toch gelogen oleh Manoekmi Sardjoe, penyunting Apsanti Ds), Jakarta: Intermasa, 1991.

[4] A point in a text where contradictions cannot be resolved, causing it to deconstruct itself. Jacques Derrida refers to a condition of uncertainty or doubt (Ann B. Dobie, 2012). (Aporia merupakan sebuah titik di dalam teks di mana kontradiksi tak dapat diatasi, menyebabkannya mendekonstruksi dirinya sendiri. Jacques Derrida merujuk kepada suatu kondisi ketidakpastian atau keraguan [Ann B. Dobie, 2012]).

[5] Deconstruction is not a fully developed critical method or even a philosophy. Instead, it is, says its founder Jacques Derrida (1930-2004), a strategy, some rules for reading, interpretation, and writing (Ann B. Dobie, 2012).
Salah satu hal yang dapat didekonstruksi ialah sastra (deconstructing literature) dengan konsep berbeda (Lois Tyson, 2006).
Konsep “differancé” dapat berarti “to defer” (menunda) dan “to differ” (membedakan), menunda berarti penanda menekankan penundaan kehadiran makna teks sastra atau lainnya secara tak berkesudahan (Raman Seldon, dkk., 2005).
Ihwal perbedaan sekaligus penundaan inilah yang membuat Dekonstruksi sebagai sifat teks yang melawan dirinya sendiri (Jonathan Culler, 2011).
Maka, teks tidak tetap sama setelah didekonstruksi sebab teks itu sebagai teks baru pula (Mario Klarer, 1998).
Inilah sebabnya dalam esai termasyhur Jacques Derrida (via K.M. Newton, editor, 2007), berjudul “Structure, Sign and Play in the Human Sciences”, teks itu sebagai permainan bahasa dan makna.

[6] Horizon of expectation (Erwartungshorizont) ialah istilah dasar bagi Teori Resepsi akademisi Jerman, Hans Robert Jauss. Setiap pembaca teks memiliki latar belakang pengetahuan bawaan yang beraneka sehingga pemaknaan suatu teks akan beraneka pula.
IMG 20250512 092424

DAFTAR PUSTAKA

Culler, Jonathan. 2011. Literary Theory: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press Inc.

Dobie, Ann B. 2012. Theory into Practice: An Introduction to Literary Criticism, Third Edition. Boston: Wadsworth.

Klarer, Mario. 1998. An Introduction to Literary Studies. London and New York: Routledge.

Newton, K.M. (editor). 2007. Twentieth-Century Literary Theory, A Reader, Second Edition. Hampshire and New York: Palgrave Macmillan.

Seldon, Raman, Peter Widdowson and Peter Brooker. 2005. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, Fifth Edition. Great Britain: Pearson Longman.

Tyson, Lois. 2006. Critical Theory Today: A User-Friendly Guide, Second Edition. London and New York: Routledge.

Sunu Wasono Nia Samsihono Zeffry Alkatiri Chairil Gibran Ramadhan Reborn Rosyid E Abby Djoko Saryono Wahyu Wibowo Lasman Simanjuntak Yon Bayu Wahyono Giyanto Subagio Nanang Ribut Supriyatin Noorca M. Massardi Rayni Massardinew Imam Qalyubi Putri Bungsu Abdul Khalim Muchwardi Muchtar Wina Armada Sukardi Doddi Ahmad Fauji Taba Heriyanto Yurnaldi Paduka Raja Ibnu Megananda Idrus Shahab Yesmil Anwar Ipit Saefidier Dimyati M Irfan Hidayatullah Yohanes Sehandi Abdul Kadir Ibrahim Pipiet Senja Dưa Fanny Jonathans Rissa Churria Nunung Noor El Niel Dyah Kencono Puspito Dewi Tora Kundera Wanto Tirtatirta Heryus Saputro Samhudi Sam Mukhtar Chaniago Saifur Rohman Bang Sem Chye Retty Isnendes Elin Keyla Adelin Sugiono Empe Faruk Tripoli Katrin Yoseph Yapi Taum Mustari Irawan Herman Syahara Harris Effendi Thahar Meitra Aziz

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses