PADANG – Perubahan perilaku pembaca seiring perkembangan zaman menjadi tantangan bagi media. Kondisi tersebut menuntut perusahaan media mampu beradaptasi sekaligus menentukan positioning agar tetap relevan dan berkembang.
Hal itu disampaikan Muhammad Mufti Syarfie saat membahas perkembangan media dan profesi wartawan di Hotel Rangkayo Basa, Padang, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Mufti, media harus mampu mengikuti perubahan segmen pembaca. Ia menilai positioning menjadi salah satu hal penting yang harus ditentukan dalam menghadapi perubahan ekosistem informasi.

“Media harus bisa mengikuti segmen pembaca. Pembaca media itu akan berubah dan berkembang sesuai zamannya, maka positioning kita perlu ditentukan,” kata Muhammad Mufti Syarfie.
Ia juga mendorong ASANTARA untuk tidak terpaku pada satu platform. Menurutnya, media perlu hadir di berbagai kanal, mulai dari televisi, radio, media cetak, online hingga media konvensional lainnya.
“Berharap Asantara ada di berbagai segmen, seperti TV, radio, cetak, online dan konvensional lainnya sehingga dapat berkembang,” ujarnya.
Mufti mengatakan keberlangsungan organisasi juga dipengaruhi oleh relasi dan pemangku kepentingan. Keduanya, kata dia, memiliki peran penting yang harus dikelola secara baik.
“Dua yang menentukan nasib organisasi, yaitu relasi dan pemangku kepentingan. Relasi yang dapat berpengaruh terhadap organisasi, sementara pemangku kepentingan adalah pihak yang berkepentingan dengan organisasi untuk dikelola,” katanya.
Menurutnya, relasi tidak hanya berfungsi memperluas jaringan, tetapi juga dapat membuka akses informasi dan memperkuat peran media dalam menjalankan fungsi jurnalistik.
Mufti juga menyoroti profesi wartawan yang dinilainya memiliki tanggung jawab besar. Ia menyebut profesi tersebut sebagai profesi seumur hidup karena karya jurnalistik dapat terus hidup dan dibaca meski wartawannya telah meninggalkan profesi tersebut.
“Profesi wartawan adalah profesi seumur hidup. Tidak ada wartawan yang mati, karena karyanya akan terus hidup,” ujarnya.
Di sisi lain, wartawan juga menghadapi tekanan besar karena memiliki pengaruh terhadap publik. Karena itu, keberanian dan positioning menjadi modal penting bagi seorang wartawan.
“Wartawan ini tekanannya besar, pengaruhnya juga besar, maka wartawan harus memiliki keberanian dan positioning,” katanya.
Mufti menilai kekuatan wartawan terletak pada positioning. Profesi tersebut memberikan ruang bagi wartawan untuk masuk ke berbagai sektor kehidupan, termasuk pemerintahan.
“Kekuatan wartawan itu terletak pada positioning-nya. Wartawan itu kuat karena profesinya yang bisa masuk ke berbagai sektor kehidupan dan pemerintahan,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan wartawan agar menentukan positioning dalam menjalankan profesinya.
“Ketiga, kita harus menentukan positioning dalam menjalankan profesi sebagai wartawan,” katanya.
Mufti juga mengingatkan wartawan untuk menguasai informasi sebelum menemui narasumber. Pengetahuan awal dinilai penting agar pertanyaan yang diajukan lebih tajam dan sesuai dengan persoalan yang hendak digali.
“Wartawan itu mesti tahu dulu sebelum menanyakan informasi kepada setiap informan untuk membuat berita,” tegasnya.
Menurut dia, pemahaman terhadap isu akan membantu wartawan menghasilkan berita yang lebih berkualitas. Wartawan tidak hanya dituntut mampu bertanya, tetapi juga harus memahami persoalan yang sedang diberitakan.
Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, media dan wartawan pada akhirnya dituntut terus beradaptasi. Namun, kemampuan mengikuti perkembangan zaman harus tetap dibarengi keberanian, jaringan, pengetahuan dan positioning yang jelas dalam menjalankan profesi jurnalistik.




