spot_img
spot_img

Belajar Gizi dari Dapur: SPPG Koptidar 88 Trimulyo Hadirkan Wisata Edukasi bagi Pelajar

Belajar Gizi dari Dapur: SPPG Koptidar 88 Trimulyo Hadirkan Wisata Edukasi bagi Pelajar

Oleh : Drs.H.Marlis,MM,C.Med ( Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar )

Pesawaran, Lampung — Komitmen Badan Gizi Nasional (BGN) dalam membangun ekosistem pemenuhan gizi yang berkualitas terus diwujudkan melalui penguatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Salah satu praktik baik datang dari SPPG Koptidar 88 yang berlokasi di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Iklan

SPPG ini tidak hanya menjalankan fungsi utama sebagai dapur layanan pemenuhan gizi, tetapi juga membuka ruang pembelajaran langsung bagi siswa sekolah di wilayah sekitar. Melalui program kunjungan atau wisata edukasi, para pelajar diberikan kesempatan melihat secara nyata bagaimana proses pengolahan makanan bergizi dilakukan—mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga standar kebersihan dan distribusi.

 

IMG 20260125 WA0140

Bagi BGN, inisiatif ini memiliki nilai strategis. Edukasi gizi sejak dini merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi sehat dan cerdas. Dengan melihat langsung operasional SPPG, siswa tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi memperoleh pengalaman konkret tentang pentingnya makanan bergizi, higienitas dapur, serta tata kelola layanan gizi yang profesional.

Yang patut diapresiasi, Mitra sekaligus Owner SPPG Koptidar 88 menunjukkan sikap terbuka dan penuh percaya diri dengan memperlihatkan seluruh fasilitas kepada siswa dan para guru pendamping. Mulai dari ruang produksi, peralatan masak, area penyimpanan, hingga sistem kebersihan, semuanya diperkenalkan secara transparan.

BACA JUGA  Anggaran Pendidikan Naik, Program Makan Bergizi Gratis Tidak Menggerus Dana Pendidikan

Langkah ini mencerminkan semangat akuntabilitas yang sejalan dengan standar BGN, sekaligus menjadi contoh bahwa SPPG tidak hanya berorientasi pada layanan, tetapi juga pada pembangunan literasi gizi masyarakat.

Dewi Ratih, selaku Mitra SPPG Koptidar 88, menegaskan bahwa keterbukaan ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral kepada publik, khususnya generasi muda.

> “Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga memahami dari mana makanan itu berasal dan bagaimana prosesnya dijaga agar tetap aman dan berkualitas. Dengan melihat langsung dapur SPPG, mereka belajar tentang kebersihan, disiplin, dan pentingnya gizi seimbang. Ini investasi edukasi jangka panjang,” ujar Dewi Ratih.

Ia menambahkan, keterlibatan sekolah dalam kunjungan edukatif ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan SPPG.

> “Kami sangat terbuka menerima kunjungan siswa dan guru. Transparansi adalah kunci. Jika fasilitas kami layak dilihat oleh anak-anak, itu artinya kami sudah berada di jalur yang benar sesuai standar yang ditetapkan BGN,” tambahnya.

BGN memandang praktik seperti yang dilakukan SPPG Koptidar 88 sebagai model pembelajaran kontekstual yang patut direplikasi di daerah lain. Ketika SPPG berfungsi tidak hanya sebagai pusat layanan gizi, tetapi juga sebagai ruang edukasi publik, maka dampaknya akan meluas—bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan harian, melainkan membentuk budaya sadar gizi di tengah masyarakat.

BACA JUGA  Menguatkan Evaluasi dan Kolaborasi untuk Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Melalui kolaborasi antara SPPG, sekolah, dan masyarakat, Program Makan Bergizi dapat berkembang menjadi gerakan bersama: menghadirkan dapur yang profesional, layanan yang transparan, serta generasi muda yang semakin paham arti penting gizi bagi masa depan bangsa.(*/ Marlis – Ketua HMD GEMAS Sumbar )

 

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses