Padel: Tren Gaya Hidup atau Gelembung Bisnis Baru?
Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med
Dalam beberapa bulan terakhir, olahraga padel menjelma menjadi primadona baru di banyak kota Indonesia. Dari kota besar hingga kota kecil, lapangan padel bermunculan bak jamur di musim hujan. Anak-anak muda berlomba masuk ke bisnis ini, investor lokal ikut antre, dan media sosial penuh dengan konten “grand opening” lapangan padel terbaru.

Sekilas, ini terlihat sebagai pertanda positif: gaya hidup sehat tumbuh, ekonomi bergerak, dan peluang usaha terbuka lebar.
Namun di balik gemerlap itu, terselip pertanyaan besar yang patut kita renungkan bersama:
apakah padel benar-benar sebuah bisnis berkelanjutan, atau sekadar tren sesaat?
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Kita pernah mengalami euforia serupa pada era futsal dan mini soccer. Saat itu, antusiasme masyarakat begitu tinggi. Lapangan dibangun di mana-mana, investasi mengalir deras, dan banyak yang yakin bisnis ini akan panjang umur. Nyatanya, hari ini sebagian besar lapangan futsal dan mini soccer telah menjadi cerita masa lalu—tutup senyap, berganti fungsi, atau sekadar bertahan dengan okupansi minim.
Padel kini berada di persimpangan yang sama.
Dengan kebutuhan investasi yang relatif besar—bisa mencapai Rp2,5 miliar per lokasi—pertanyaan paling mendasar seharusnya bukan “kapan buka?”, melainkan:
apakah realistis bisnis ini bisa balik modal (BEP) dalam 1–2 tahun?
Mari kita jujur membaca realitas. Pasar padel saat ini masih sangat segmented. Mayoritas pemain berasal dari kalangan menengah atas, komunitas tertentu, dan mereka yang menjadikan padel sebagai bagian dari gaya hidup, bukan kebutuhan rutin. Ini berbeda dengan bulu tangkis atau sepak bola yang telah mengakar kuat lintas kelas sosial.
Ketika jumlah lapangan tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan pemain aktif, maka yang terjadi hanyalah perang harga, diskon agresif, dan perebutan komunitas yang sama. Pada titik inilah bisnis berubah dari peluang menjadi pertarungan bertahan hidup.
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak pelaku usaha masuk tanpa studi kelayakan yang matang. Modal besar dikeluarkan, namun strategi jangka panjang sering kali absen. Tidak semua lokasi memiliki daya beli yang cukup. Tidak semua kota kecil punya basis komunitas yang sustain. Dan tidak semua investor siap menghadapi masa sepi setelah hype awal mereda.
Inilah ciri klasik dari apa yang saya sebut sebagai trend-driven business—bisnis yang lahir dari euforia, bukan dari perhitungan ekosistem.
Padel sejatinya bukan masalahnya. Olahraganya bagus, komunitasnya potensial, dan peluang ekonominya nyata. Yang menjadi persoalan adalah pola berbondong-bondong tanpa perencanaan, tanpa diferensiasi, dan tanpa pemetaan pasar yang serius.
Jika semua hanya meniru konsep yang sama—lapangan, kafe kecil, lalu berharap ramai—maka padel sangat mungkin mengikuti jejak futsal dan mini soccer: ramai di awal, sunyi di tengah, lalu perlahan menghilang.
Karena itu, para pelaku usaha perlu mulai berpikir lebih dewasa. Padel tidak cukup dijual sebagai olahraga, tetapi harus dibangun sebagai ekosistem: pembinaan atlet usia dini, liga amatir berjenjang, kemitraan dengan sekolah, program komunitas, hingga integrasi dengan UMKM lokal. Tanpa itu, bisnis ini hanya akan bergantung pada hype media sosial.
Kita tentu berharap padel tidak berakhir tragis seperti pendahulunya. Namun harapan saja tidak cukup. Diperlukan kehati-hatian, kajian yang matang, dan keberanian untuk berbeda.
Sebab dalam dunia usaha, yang bertahan bukan mereka yang paling cepat ikut tren—melainkan mereka yang paling siap menghadapi saat tren itu berlalu.




